Living with the Türks in Konya


konya-masjid

Haci Veyiszade Camii, Konya

.

Life is a balance between holding on and letting go (Rumi)

Setelah Istanbul yang cantik, Konya menjadi tujuan saya yang selanjutnya. Walaupun itu adalah kali ke-2 saya mengunjungi ibukota Kesultanan Utsmaniyah itu, saya tetap saja merindukannya bahkan sebelum meninggalkannya. Istanbul memang unik. Dalam satu kota, kita akan menemukan beragam situs sejarah dari berbagai periode, mulai dari zaman Byzantium, lalu zaman Kesultanan Utsmaniyah sampai karya yang dari zaman Republik Turki yang modern. Tapi tak apa, nanti setelah menghabiskan waktu di daratan Anatolia Tengah nanti – Konya, Cappadocia dan Kayseri – saya akan singgah kembali di Istanbul.

I do have a wonderful life!

Pagi sekali sekitar jam 2, saya sudah bersiap-siap menunggu jemputan shuttle ke bandara Ataturk International Airport. Tak lama kemudian, minibus shuttle-nya datang. Jika siang hari, mungkin saya akan memilih gabungan tram ke Zeytinburnu, disambung dengan metro ke bandara untuk menghindari kemacetan. Untuk malam, shuttle lebih praktis dan efektif, cukup membayar sebesar EUR 10 saja. (Iya, mereka terima EUR)

Continue reading