Pengalaman Toilet di Mancanegara


May your life be like toilet paper, long and useful 🙂 (unknown)

Toilet adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Untuk menjaga keseimbangan massa dan energi di dalam tubuh kita, kita harus mengeluarkan gas (berupa kentut atau sendawa), liquid (berupa pipis) dan bahan semi-solid (aka pup). Hehe, chemical engineer loh ini yang punya blog 😊

Saat traveling, toilet adalah salah satu item yang membuat saya harap-harap cemas, takut dapat yang kotor dan membuat selera makan hilang berhari-hari. Maklum, saya orangnya jijik-an luar biasa. Jangankan melihat output defekasi manusia yang asli, melihat gambar yang menjijikkan pun saya bisa mual sendiri. Dan jangankan melihat yang asli ataupun gambar, membayangkan saja pun bisa mual. Makanya saya tak suka ada pembicaraan yang mengarah ke toilet jika sedang makan, karena pikiran saya langsung menggembara kemana-mana 😛 Kata temen psikolog, saya punya daya imajinasi multicolor. Apapun itu, it is a blessing and a curse 😊

Continue reading

Advertisements

Living with the Türks in Konya


konya-masjid

Haci Veyiszade Camii, Konya

.

Life is a balance between holding on and letting go (Rumi)

Setelah Istanbul yang cantik, Konya menjadi tujuan saya yang selanjutnya. Walaupun itu adalah kali ke-2 saya mengunjungi ibukota Kesultanan Utsmaniyah itu, saya tetap saja merindukannya bahkan sebelum meninggalkannya. Istanbul memang unik. Dalam satu kota, kita akan menemukan beragam situs sejarah dari berbagai periode, mulai dari zaman Byzantium, lalu zaman Kesultanan Utsmaniyah sampai karya yang dari zaman Republik Turki yang modern. Tapi tak apa, nanti setelah menghabiskan waktu di daratan Anatolia Tengah nanti – Konya, Cappadocia dan Kayseri – saya akan singgah kembali di Istanbul.

I do have a wonderful life!

Pagi sekali sekitar jam 2, saya sudah bersiap-siap menunggu jemputan shuttle ke bandara Ataturk International Airport. Tak lama kemudian, minibus shuttle-nya datang. Jika siang hari, mungkin saya akan memilih gabungan tram ke Zeytinburnu, disambung dengan metro ke bandara untuk menghindari kemacetan. Untuk malam, shuttle lebih praktis dan efektif, cukup membayar sebesar EUR 10 saja. (Iya, mereka terima EUR)

Continue reading