Pengalaman Ojek Online


Sebenarnya, saya dulu bukan penggemar ojek. Pertama, karena tarif ojek tidak pernah jelas dan suka-suka si pengendara saja. Kedua, tidak terlalu aman. Pengendara ojek seringkali tidak bisa diberi pemahaman tentang keselamatan di jalan raya.

Biasanya mereka berkilah, “Kalau gitu nggak sampai-sampai, Mbak. Habis waktu saya. Saya masih butuh cari lagi setelah ini.” Alasan yang bisa dimengerti tapi tentu saja bertentangan dengan standar keselamatan yang saya punya. Alhasil, saya jadi lebih senang naik si burung biru 😃.

Seiring dengan populernya ojek online di Indonesia. Saya pun penasaran. Ongkosnya sangat murah dan konon pelayanannya lebih bagus. Saya pun mencoba dan saya suka. Karena ongkos transportasi saya bisa berkurang 60% dan ternyata si abang ojek sangat bisa diajak berkompromi. Saya selalu bilang kepada mereka, “Kita hati-hati dan ikut rambu lalu lintas saja ya”. Mereka menyanggupi dan jadilah sekarang saya pemakai setia mereka. Untuk jarak yang lebih dari 5 km, saya masih lebih suka taksi atau layanan taksi online.

Continue reading

IKEA, H&M, dan ZARA


Disclaimer:

Tulisan ini membahas perilaku dan pola pikir sebagian masyarakat Indonesia terhadap brand luar negeri, bukan menjelekkan brand yang disebutkan.

***

Sedikit intermezzo tentang tulisan jalan-jalan ke Spanyol yang tertinda-tunda terus.

Sebulan yang lalu, saya akhirnya bertandang ke IKEA Alam Sutera, sebuah toko furniture asal Swedia, yang sebenarnya juga menjual pernak-pernik rumah tangga dan beberapa jenis makanan. Ya, sejak Oktober 2014 silam, IKEA resmi hadir di Indonesia, dengan PT Hero Supermarket sebagai pemegang lisensinya. Sebelumnya, IKEA yang paling dekat dengan Indonesia adalah di Singapura. Sehingga sangat wajar, jika kita mengunjungi si Kota Singa, produk IKEA adalah salah satu barang yang kerap kali diminta sebagai oleh-oleh.

Continue reading

Cara Memesan Tiket Al Hambra Secara Online


Seperti yang sudah dituliskan di postingan sebelumnya tentang Al Hambra, ada beberapa cara yang digunakan untuk mendapatkan tiket Al Hambra, yang paling praktis menurut saya adalah dengan membeli online.

Pada tahun 2011, saya dan teman-teman mengunjungi Schloss Neuschwanstein di Jerman. Salah seorang di antara kami menganjurkan untuk membeli langsung saja karena menurutnya sedikit mengantri tidak apa-apa. Saya menurut, karena gak mau dibilang nyinyir 😛

Dan ketika kami sampai di sana, antriannya ternyata mengular kemana-mana. Walaupun sudah datang jam 11 siang ke lokasi, kami baru bisa masuk ke kastil rancangan Raja Ludwig II ini jam 5 sore. Untung saja daerah sekitarnya bagus, jadi kami gak terlalu mati gaya. And I have learned my lessons. Sejak saat itu, jika dimungkinkan untuk membeli tiket secara online, akan saya beli secara online. Dan oh iya, dan sejak saat itu, nyinyir dengan alasan ingin meningkatkan efektivitas bukan hal yang menakutkan lagi buat saya 🙂

Continue reading

Tak Jadi Sendirian di Al Hambra


al0

Patio de los Arrayanes, Istana Nasrid

Menangislah seperti wanita untuk sesuatu yang tak bisa kau pertahankan sebagai (layaknya) laki-laki (Aisha al Horra, kepada anaknya Boabdil, emir terakhir Granada)

 

Tanggal 24 Februari 2010, saya bangun pagi sekali. Di luar, terdengar hujan gerimis. Saya bergegas untuk mandi dan shalat Shubuh. Walaupun menurut booking-an Hostelworld, kamar yang saya pesan mempunyai kamar mandi privat, ternyata tempatnya tidak di dalam kamar. Saya harus berjalan sekitar 7 meter menuju kamar mandi privat saya. Kamar mandi tersebut memang hanya untuk saya, tapi letaknya di luar kamar. Di dalam kamar hanya diberi wastafel kecil saja. Karena harga kamarnya murah, saya tak akan banyak tingkah untuk ini. Lagipula, kamarnya bersih dan nyaman kok.

Saya berjalan menuju jalan utama. Sampai di halte bus, sebuah minibus berhenti. Ini adalah bus yang akan mengantar saya menuju gerbang Al Hambra. Saya sudah mencari tahu tentang bus ini pada hari sebelumnya. Di pagi yang masih gelap dan ditambah hujan gerimis, tentu naik bus lebih menyenangkan ketimbang jalan kaki mendaki bukit.

Continue reading

Mendadak Solo di Madrid


img_0064

Palacio Real de Madrid

There is no greater glory than love, nor any greater punishment than jealousy

(Lope de Vega, born in Madrid)

Saya baru saja membantu menyiapkan itinerary untuk teman saya yang akan berkunjung ke Andalusia Spanyol tahun 2017 ini, hingga saya harus kembali mengingat-ingat trip yang sudah saya eksekusi tahun 2010 silam. Tujuh tahun yang lalu! Mengingat Spanyol adalah salah satu negara favorit saya, Insya Allah saya mengingat sebagian besar detailnya karena semuanya sangat berkesan.

Akhirnya saya posting saja di sini. Dulu juga sudah di-publish di Multiply, tapi tulisannya sudah almarhum bersamaan dengan ditutupnya sang platform.

Tahun 2010 adalah salah satu tahun yang sibuk dalam sejarah jalan-jalan saya :D. List-nya adalah seperti berikut:

  • Februari : Spanyol
  • Mei : Skotlandia, Belgia
  • Juli : Jerman, Malaysia
  • Agustus : Inggris
  • Oktober : Belgia (lagi!)
  • Desember : Spanyol (lagi!), Maroko

Jalan-jalan terus, kapan kuliahnya? Haha. Alhamdulillah ada waktu. Lagipula, kuliah saya kan tidak dibayar dengan beasiswa dari uang rakyat Indonesia. Jadi, boleh lah sebagian uang dan waktunya saya pakai untuk bersenang-senang.

O, iya. Ini belum termasuk trip-trip kecil di Belanda, seperti menikmati parade bunga di Keukenhof, Boatweek – mengitari Belanda lewat kanal dan sungai, Afsluitdijk kebanggaan Belanda di Zeeland, dan weekend gateaway lainnya. Alhamdulillah. Saya ingin disibukkan lagi oleh acara jalan-jalan, semoga Allah Mengizinkan 🙂

Continue reading