Pengalaman Ojek Online


Sebenarnya, saya dulu bukan penggemar ojek. Pertama, karena tarif ojek tidak pernah jelas dan suka-suka si pengendara saja. Kedua, tidak terlalu aman. Pengendara ojek seringkali tidak bisa diberi pemahaman tentang keselamatan di jalan raya.

Biasanya mereka berkilah, “Kalau gitu nggak sampai-sampai, Mbak. Habis waktu saya. Saya masih butuh cari lagi setelah ini.” Alasan yang bisa dimengerti tapi tentu saja bertentangan dengan standar keselamatan yang saya punya. Alhasil, saya jadi lebih senang naik si burung biru 😃.

Seiring dengan populernya ojek online di Indonesia. Saya pun penasaran. Ongkosnya sangat murah dan konon pelayanannya lebih bagus. Saya pun mencoba dan saya suka. Karena ongkos transportasi saya bisa berkurang 60% dan ternyata si abang ojek sangat bisa diajak berkompromi. Saya selalu bilang kepada mereka, “Kita hati-hati dan ikut rambu lalu lintas saja ya”. Mereka menyanggupi dan jadilah sekarang saya pemakai setia mereka. Untuk jarak yang lebih dari 5 km, saya masih lebih suka taksi atau layanan taksi online.

Continue reading

Shower di Penginapan, Amankah?


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,

Setelah Om Cumi Lebay yang berpulang Maret 2017 lalu, dunia ‘ngebolang’ Indonesia kehilangan sosok inspiratif lainnya, Vindhya Birahmatika Sabnani, yang merupakan pendiri Ibu Penyu. Saya sendiri belum pernah ikut trip Bersama beliau, hanya melihat tulisannya di blog Ibupenyu.com dan kicauannya di Twitter @ibupenyu. Saya berencana untuk ikut trip bersama Ibupenyu selepas lebaran tahun ini…

Dikabarkan, Vindhya meninggal gara-gara kesetrum listrik di saat mandi. Temannya, berusaha menolong, namun malah ikut kesetrum. Keduanya akhirnya meninggal dunia…

Yang saya sesalkan, kenapa media mesti membuat beritanya menjadi bombastis sehingga khalayak menjadi beranggapan lain. Ditambah pula dengan embel-embel “tanpa busana”. Ya iyalah, namanya juga mandi…

Kesetrum, bagi saya, adalah hal yang cukup menyeramkan karena saya tak pernah tahu keberadaannya, kapan datangnya dan bagaimana cara mengidentifikasi bahwa ada arus listrik yang tidak pada tempatnya. Saya sendiri pernah kesetrum satu atau dua kali, tapi hanya sampai membuat kaget, deg-degan dan badan menjadi sedikit gemetar saja.

Continue reading

IKEA, H&M, dan ZARA


Disclaimer:

Tulisan ini membahas perilaku dan pola pikir sebagian masyarakat Indonesia terhadap brand luar negeri, bukan menjelekkan brand yang disebutkan.

***

Sedikit intermezzo tentang tulisan jalan-jalan ke Spanyol yang tertinda-tunda terus.

Sebulan yang lalu, saya akhirnya bertandang ke IKEA Alam Sutera, sebuah toko furniture asal Swedia, yang sebenarnya juga menjual pernak-pernik rumah tangga dan beberapa jenis makanan. Ya, sejak Oktober 2014 silam, IKEA resmi hadir di Indonesia, dengan PT Hero Supermarket sebagai pemegang lisensinya. Sebelumnya, IKEA yang paling dekat dengan Indonesia adalah di Singapura. Sehingga sangat wajar, jika kita mengunjungi si Kota Singa, produk IKEA adalah salah satu barang yang kerap kali diminta sebagai oleh-oleh.

Continue reading

Pengalaman Pertama ke Hammam


hammam-kastor

Hammam Kastor, Den Haag, Belanda. Pic from: http://www.hammamkastor.nl

Ada banyak negara yang menjadikan hammam sebagai bagian dari gaya hidup dan tradisinya, terutama di daerah Timur Tengah. Akan tetapi pengalaman hammam pertama saya bukanlah di Turki, ataupun Maroko, ataupun Jordania, ataupun Uni Emirat Arab, dan tidak juga Andalusia Spanyol, tapi di…Belanda!

Tapi sebenarnya, saya pernah mencoba masuk salah satu hammam di suatu sore di area Sultanahmet di Istanbul. Tapi antriannya panjang banget, sehingga saya mengurungkan niat. Lagipula, hammam yang terlalu rame tidak lah begitu mengasyikkan. Saya masih mencoba peruntungan lagi setiap ke Istanbul, tapi keadaan tetap sama. Ada juga teman yang menyarankan untuk memakai hammam di salah satu hotel, eh ternyata tukang scrubbing-nya laki-laki. Aneh. Ada-ada saja, hahaha.

O, iya, kenapa di Belanda?

Berawal dari suatu hari ketika teman saya terlihat lebih bersih, lebih segar dan seperti mendapat energi tambahan. Ternyata ia baru saja kembali dari hammam yang ada di Den Haag.

Waaah, ternyata ada hammam di Den Haag! 😍

Saya mengatakan bahwa saya ingin juga diajak kapan-kapan. Tapi dia menolak dan mengatakan bahwa dia tak ingin pergi dengan orang yang dikenalnya. Heran juga, kami kan sama-sama perempuan. Bagi saya waktu itu, hammam kira-kira mirip dengan luluran. Dan saya juga sering pergi luluran dengan teman perempuan. Girl-friends time, gitu lah.

Continue reading

Bebas Visa 5 Hari ke Belarus!


OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mir Castle, Pic from http://www.insidebelarus.com

Sebelumnya bagi saya, Belarus hanya identik dengan Soviet, komunis dan film ‘Franz + Polina’, yang menceritakan kisah cinta antara Franz, seorang kader Nazi Jerman dengan Polina, seorang gadis Belarus dengan latar Belarus yang sedang diduduki oleh Nazi Jerman. Film ini lumayan bikin mewek juga, hehe.

Saya dulu juga tak terlalu memperhatikan Belarus karena mendapatkan visa Belarus sebelumnya dikenal agak susah. Ternyata awal Januari 2017 ini, pemerintah Belarus memberikan bebas visa kepada 80 negara, termasuk Indonesia. Bebas visa ini akan efektif mulai 9 Februari 2017 ini. Yeay!

Saya agak telat mengetahui ini. Tapi tak apalah, di-share di sini aja. Berikut berita resminya, yang diambil dari laman pemerintah salah satu bekas negara Soviet Union ini.

Continue reading