Tips & Trik Jalan-jalan ke Iran


lotfollah

Detail floral dan geometrik di Masjid Lothfollah, Isfahan

Berikut adalah beberapa tips dan trik tentang (perjalanan) ke Iran yang dirangkum dalam bentuk Q&A, berdasarkan pertanyaan dari teman dan key search tentang Iran di blog saya 😀

Apa saja yang menarik tentang Iran?

Banyak, antara lain: alam dan pemandangan yang indah, arsitektur yang cantik, kebiasaan warganya yang unik, sama seperti warga negara lain yang punya keunikannya masing-masing.

Kalau pergi ke Iran, sebaiknya bersama grup atau cukup aman sebagai solo traveler?

Oleh teman saya yang orang Iran, saya disarankan pergi bersama grup. Tapi dari hasil googling di internet, ada beberapa solo traveler juga, termasuk orang Indonesia.

Menurut hemat saya, solo traveler ke kota-kota yang lumayan besar (Tehran, Isfahan, Shiraz, Mashhad) mungkin tidak akan bermasalah, tapi jika ingin ke kota-kota kecil yang ada di pelosok dan memerlukan transportasi yang kompleks mungkin akan mendapatkan language barrier.

Continue reading

Singgah di Muscat, Oman


mutama

Masjid Sultan Qabus, Muscat

Those who have achieved their dreams didn’t do it sitting in a comfort zone. They challenged the status quo

(Sheikh Khalfan Al Esry, an Omani personal development expert and former top engineer)

 Kami terbang ke Iran menggunakan Oman Air, dengan rute Jakarta- Kuala Lumpur-Muscat-Tehran. Rute Jakarta-KL menggunakan Malaysia Airlines, dan sisanya menggunakan Oman Air. Kenapa Oman Air? Karena itulah harga paling murah ideal yang bisa kami dapatkan saat itu. We didn’t choose the price; the price simply chose us, haha.

Setelah semalam di Malaysia, kami bertolak ke Muscat. Perjalanan memakan waktu 8 jam. Itu pertama kalinya saya saya menggunakan national carrier Kesultanan Oman tersebut. Kesannya sih oke-oke saja. Pramugarinya lumayan tegas. Seorang bapak-bapak di-‘kepret’ oleh seorang pramugari karena disangka mengambil fotonya tanpa ijin, haha. Untuk perjalanan pulang nanti sewaktu kembali menuju KL dari Muscat, ada sedikit drama yang mengecewakan sebagian penumpang maskapai ini, termasuk kami. Itu minority report dari trip ini dan akan jadi pelajaran buat saya di masa mendatang saja.

Singkat cerita, pesawat kami mendarat di Muscat International Airport (MCT) pada tengah hari. Muscat adalah kota transit sebelum terbang kembali menuju Tehran pada dini hari besoknya. Kami menggunakan kesempatan itu untuk mengitari ibukota Oman tersebut. Buat pemegang paspor hijau Indonesia, kita bisa membayar sebanyak USD 20 untuk aplikasi visa turis. Tidak ada paperwork dan interview apapun. Kita hanya membayar sebanyak jumlah yang diperlukan, lalu akan diberikan slip pembayaran. Kemudian slip dan paspor ini dibawa ke petugas imigrasi, paspor diberi stempel dan voila, selamat jalan-jalan di Oman!

Continue reading

Mengunjungi Mausoleum Imam Ayatullah Khumaini


dsc_0467

Kompleks Mausoleum dari luar

Love will find its way through all languages on its own (Rumi)

Imam Ayatullah Khumaini adalah salah seorang figur yang sangat dihormati oleh masyarakat Iran. Ia dianggap sebagai penyelamat umat dari tirani Shah dan mengembalikan nilai-nilai kesopanan kepada masyarakat Iran. Namun, tak sedikit pula yang menentangnya, terlebih golongan yang menginginkan masyarakat Iran yang lebih sekuler.  Menurut teman saya yang orang Iran, memang benar bahwa mereka dulu melakukan referendum untuk memilih pemerintahan yang berdasarkan Islam ketimbang pemerintahan Shah, tapi mereka tidak menyangka bahwa keadaan akan menjadi ‘sekeras’ ini. Dia sendiri mengharapkan pemerintahan yang lebih fleksibel dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak.

Continue reading

Menyapa Istana Niavaran dan Istana Golestan di Tehran


dsc_0582

Dekorasi di Istana Golestan, Tehran

What is the use of gold land ornaments if the woman is ignorant? Gold and jewels will not cover up that blemish. — from “Iranian Women”

(Parvin Etesami, a female poet from Qajar Dinasty)

Setelah menyelesaikan kunjungan di Qom, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Tehran. Jalanan sangat padat oleh mobil-mobil yang berjejal menuju dan keluar Iran. Keadaannya mirip dengan jalanan tol menuju Jakarta. Ketika minibus kami mulai memasuki ibukota Iran ini, hawa-hawa metropolis mulai terasa. Walaupun ketika itu, senja mulai berganti dengan malam, saya bisa melihat dengan jelas kesibukan kota ini. Pertokoan modern di mana-mana. Orang-orang berlalu-lalang. Saya tak melihat wanita ber-chador sewaktu itu. Kebanyakan wanita memakai tunik, celana panjang, dan menutup kepala, dan seringnya berselendang ala “Mbak Tutut”, jadi poni dan jambulnya masih nyembul di depan 🙂

Setelah drama berputar-putar tak jelas demi mencari hotel, akhirnya kami sampai juga di hotel yang sudah di-booking. Setelah check-in, saya mandi dan ingin tidur saja. Beberapa teman ada yang keluar dan menyusuri Vali Asr Street, yang merupakan jalan yang terpanjang di Timur Tengah, yaitu 17,9 km. Jalan ini dibangun pada era Shah Reza Pahlavi, dan sudah berkali-kali berganti nama, mulai dari Pahlavi Street, Mossadeq Street, lalu Valiasr Street, yang merupakan nama lain dari Imam ke-12 Syiah.

Tehran sendiri merupakan kota yang baru berkembang pada zaman yang sudah mulai modern. Kota ini dipilih sebagai ibukota negara pada masa dua dinasti terakhir Iran, yaitu Qajar (1789-1925) dan Pahlavi (1925-1979). Setelah Revolusi Islam pada tahun 1979, Tehran tetap dijadikan pusat pemerintahan. Tak heran, kota ini didominasi nuansa modern.

Buat saya pribadi, Tehran identik dengan film Children of Heaven, yang menceritakan perjuangan seorang anak untuk mendapatkan sepatu. Film yang berlatar belakang Tehran itu sangat menyentuh dan mengajarkan nilai-nilai tentang keluarga, kerja keras, kejujuran dan semangat pantang menyerah. Saya tak pernah bosan menontonnya. Konon, film ini memang menampilkan realita yang terjadi di Iran pada umumnya.

Continue reading

Mengintip Qom, Pusat Keagamaan di Iran


q1

Masjid Jamkaran, Qom dilihat dari jalan

In the book of life every page has two sides: we human beings fill the upper side with our plans, hope and wishes, but providence writes on the other side, and what it ordains is seldom our goal

(Nizami Ganjavi – whose father was from Qom)

Dari Abyaneh di Propinsi Isfahan, kami bergegas menuju Propinsi Qom. Kenapa bergegas, karena jadwal hari itu padat sekali. Siang itu juga, kami harus segera sampai di Masjid Jamkaran, lanjut ke Makam Fatimah Maksumah. Menurut rencana, kami akan bermalam di Tehran. Dua dari travel mates saya memang pengikut Syiah, jadi mereka ingin sekali berziarah dan beribadah di kota yang mereka pandang sangat suci ini.  Saya sih ingin melihat-lihat saja untuk menambah pengetahuan. Sebenarnya, Qom tidak hanya tentang Mullah dan pusat Syiah saja. Sebuah kilang minyak dan pusat pengembangan nuklir juga ada di sini.

Continue reading