Tersesat di Granada!


img_0437

I want the Arabic Granada, that which is art, which is all that seems to me beauty and emotion

(Isaac Albeniz, Spanish pianist and composer)

Dari Madrid, bus Alsa yang saya tumpangi melesat ke Granada, di Propinsi Granada di wilayah Andalusia. Saya sudah memesan bus ini secara online sebelumnya. O, iya, pada waktu itu, tiket online tersebut harus dipesan dengan kartu debit keluaran Spanyol atau kartu kredit terbitan Eropa. Kartu debit Maestro keluaran ABN AMRO andalan saya tentu saja tidak berlaku. Akhirnya, saya harus meminta bantuan seorang teman yang memiliki rekening di bank Spanyol untuk melakukan ini.

Kenapa saya tidak menggunakan kereta api Renfe?

Maunya sih begitu. Tapi tiket Renfe kan lebih mahal daripada bus. Kantong saya yang ala mahasiswa bisa cepat kempes nantinya 🙂

Continue reading

Advertisements

Menengok Masjid-masjid di Rotterdam, Belanda


Het kan niet zo zijn dat iemand van ons allen eist dat we zijn opvattingen respecteren en tegelijkertijd niet bereid is de opvattingen van anderen te respecteren

Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menghormati pandangan kita jika kita tak bisa menghormati pandangan orang lain juga

(Ahmed Aboutaleb, Walikota Rotterdam incumbent)

Rotterdam akan selalu menjadi kota yang mendapat tempat di hati saya. Kenapa tidak, saya pernah tinggal di sana, bekerja di sana, berlangganan RET, menjalani kehidupan di sana – punya huisarts (dokter umum), tandarts (dokter gigi), tukang jahit langganan, tempat belanja daging halal langganan, hammam langganan, dan terdaftar pula sebagai anggota gym khusus perempuan di sana. Dan saya selalu mensyukuri masa-masa itu.

Ik was Rotterdammer geweest! 

Rotterdam adalah salah satu kota metropolitan di Belanda dan tergabung dalam Randstad (kira-kira diartikan sebagai gabungan kota metropolitan Belanda) bersama dengan Amsterdam, Den Haag, dan Utrecht). Rotterdam terletak di Propinsi Zuid Holland, dialiri oleh Sungai Maas, yang menghubungkannya dengan Jerman dan Eropa Tengah melalui Delta Rhine-Meuse-Scheldt.

Continue reading

Singgah di Muscat, Oman


mutama

Masjid Sultan Qabus, Muscat

Those who have achieved their dreams didn’t do it sitting in a comfort zone. They challenged the status quo

(Sheikh Khalfan Al Esry, an Omani personal development expert and former top engineer)

 Kami terbang ke Iran menggunakan Oman Air, dengan rute Jakarta- Kuala Lumpur-Muscat-Tehran. Rute Jakarta-KL menggunakan Malaysia Airlines, dan sisanya menggunakan Oman Air. Kenapa Oman Air? Karena itulah harga paling murah ideal yang bisa kami dapatkan saat itu. We didn’t choose the price; the price simply chose us, haha.

Setelah semalam di Malaysia, kami bertolak ke Muscat. Perjalanan memakan waktu 8 jam. Itu pertama kalinya saya saya menggunakan national carrier Kesultanan Oman tersebut. Kesannya sih oke-oke saja. Pramugarinya lumayan tegas. Seorang bapak-bapak di-‘kepret’ oleh seorang pramugari karena disangka mengambil fotonya tanpa ijin, haha. Untuk perjalanan pulang nanti sewaktu kembali menuju KL dari Muscat, ada sedikit drama yang mengecewakan sebagian penumpang maskapai ini, termasuk kami. Itu minority report dari trip ini dan akan jadi pelajaran buat saya di masa mendatang saja.

Singkat cerita, pesawat kami mendarat di Muscat International Airport (MCT) pada tengah hari. Muscat adalah kota transit sebelum terbang kembali menuju Tehran pada dini hari besoknya. Kami menggunakan kesempatan itu untuk mengitari ibukota Oman tersebut. Buat pemegang paspor hijau Indonesia, kita bisa membayar sebanyak USD 20 untuk aplikasi visa turis. Tidak ada paperwork dan interview apapun. Kita hanya membayar sebanyak jumlah yang diperlukan, lalu akan diberikan slip pembayaran. Kemudian slip dan paspor ini dibawa ke petugas imigrasi, paspor diberi stempel dan voila, selamat jalan-jalan di Oman!

Continue reading

Mengunjungi Mausoleum Imam Ayatullah Khumaini


dsc_0467

Kompleks Mausoleum dari luar

Love will find its way through all languages on its own (Rumi)

Imam Ayatullah Khumaini adalah salah seorang figur yang sangat dihormati oleh masyarakat Iran. Ia dianggap sebagai penyelamat umat dari tirani Shah dan mengembalikan nilai-nilai kesopanan kepada masyarakat Iran. Namun, tak sedikit pula yang menentangnya, terlebih golongan yang menginginkan masyarakat Iran yang lebih sekuler.  Menurut teman saya yang orang Iran, memang benar bahwa mereka dulu melakukan referendum untuk memilih pemerintahan yang berdasarkan Islam ketimbang pemerintahan Shah, tapi mereka tidak menyangka bahwa keadaan akan menjadi ‘sekeras’ ini. Dia sendiri mengharapkan pemerintahan yang lebih fleksibel dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak.

Continue reading

Mengintip Qom, Pusat Keagamaan di Iran


q1

Masjid Jamkaran, Qom dilihat dari jalan

In the book of life every page has two sides: we human beings fill the upper side with our plans, hope and wishes, but providence writes on the other side, and what it ordains is seldom our goal

(Nizami Ganjavi – whose father was from Qom)

Dari Abyaneh di Propinsi Isfahan, kami bergegas menuju Propinsi Qom. Kenapa bergegas, karena jadwal hari itu padat sekali. Siang itu juga, kami harus segera sampai di Masjid Jamkaran, lanjut ke Makam Fatimah Maksumah. Menurut rencana, kami akan bermalam di Tehran. Dua dari travel mates saya memang pengikut Syiah, jadi mereka ingin sekali berziarah dan beribadah di kota yang mereka pandang sangat suci ini.  Saya sih ingin melihat-lihat saja untuk menambah pengetahuan. Sebenarnya, Qom tidak hanya tentang Mullah dan pusat Syiah saja. Sebuah kilang minyak dan pusat pengembangan nuklir juga ada di sini.

Continue reading