Living with the Türks in Konya


konya-masjid

Haci Veyiszade Camii, Konya

.

Life is a balance between holding on and letting go (Rumi)

Setelah Istanbul yang cantik, Konya menjadi tujuan saya yang selanjutnya. Walaupun itu adalah kali ke-2 saya mengunjungi ibukota Kesultanan Utsmaniyah itu, saya tetap saja merindukannya bahkan sebelum meninggalkannya. Istanbul memang unik. Dalam satu kota, kita akan menemukan beragam situs sejarah dari berbagai periode, mulai dari zaman Byzantium, lalu zaman Kesultanan Utsmaniyah sampai karya yang dari zaman Republik Turki yang modern. Tapi tak apa, nanti setelah menghabiskan waktu di daratan Anatolia Tengah nanti – Konya, Cappadocia dan Kayseri – saya akan singgah kembali di Istanbul.

I do have a wonderful life!

Pagi sekali sekitar jam 2, saya sudah bersiap-siap menunggu jemputan shuttle ke bandara Ataturk International Airport. Tak lama kemudian, minibus shuttle-nya datang. Jika siang hari, mungkin saya akan memilih gabungan tram ke Zeytinburnu, disambung dengan metro ke bandara untuk menghindari kemacetan. Untuk malam, shuttle lebih praktis dan efektif, cukup membayar sebesar EUR 10 saja. (Iya, mereka terima EUR)

Sebenarnya saya tidak tidur malam itu, takut ketiduran walaupun pihak manajemen hostel berjanji akan membangunkan saya. Tapi, daripada ini dan daripada itu, saya memilih bangun sendiri.

Jalanan kosong sekali pada dini hari itu sehingga saya sampai di bandara pagi sekali. Untuk menghabiskan waktu, saya ngupi-ngupi dulu di sebuah kafe, sarapan dengan secangkir kopi dan sepotong baklava dan persediaan wifi tanpa batas. Kemudian di ruang tunggu Turkish Airlines menuju Konya, saya bertemu dengan keluarga Ateş yang pada dini hari itu juga sampai di Istanbul dari Amman, Jordania. Mereka akan menjadi host saya selama di Konya nanti. Dari Istanbul, kami akan terbang bersama-sama menuju Konya.

I would be living with the Turks, eat Turkish food, like a Turk, in Turkey!

Penerbangan selama 1,5 jam berakhir di Konya International Airport. Saya hanya tidur selama di perjalanan, bahkan saya tak sempat makan. Temperatur di Konya rendah sekali waktu itu, saya sampai menggigil. Tak lama setelah keluar dari pesawat, salju mulai turun sedikit demi sedikit. Saya segera ke dalam aula bandara supaya sedikit lebih hangat. Bandara Konya sangat kecil. Sebelas dua belas lah dengan bandara Minangkabau di Padang, hehe.

Setelah mengambil semua koper, kami memesan sebuah taksi dengan tujuan daerah Meram, tempat rumah host saya berada. Sedikit OOT, Meram adalah nama restoran Turki favorit saya di Belanda. Setelah sedikit mempelajari Turki, orang Turki suka memberi nama tempat atau daerah sebagai nama restorannya, mirip dengan orang Minang :P.

Konya adalah sebuah kota yang terletak di Wilayah Anatolia Tengah, dan merupakan ibukota Propinsi Konya, Republik Turki. Konya ternyata sudah mulai dihuni sejak zaman perunggu, yaitu tahun 3000 SM. Di masa lampau, Konya pernah menjadi ibukota Kesultanan Seljuk dan Karaman. Selain ini, Konya dikenal sebagai kota tempat bersemayamnya Mevlana Rumi, sang Sufi kelahiran tanah Persia yang dikenal bijaksana.

konya-mevsema

Kiri: Sema di Mevlana Kultur Merkezi, Kanan: Mevlana Museum

Sedikit banyak, saya merasa bahwa Konya ini memang mirip dengan Padang. Entahlah, mungkin hanya perasaan saya saja. Konya sepertinya lebih besar, tapi bukanlah sebuah kota metropolitan. Dibandingkan kota-kota lain di Turki, Konya lebih konservatif dan masyarakatnya dikenal lebih relijius. Jika ada seseorang yang berasal dari Konya, orang-orang pasti menganggapnya sebagai orang yang alim, paham agama dan diharapkan orang tersebut juga selalu sopan dan gak aneh-aneh.

Rumah keluarga Ateş ini agak unik. Setiap ruang diberi pintu dan masing-masing ruangnya diberi kursi tamu lengkap. Selain kamar tidur, sepertinya semua ruang di rumah adalah ruang tamu. Seperti rumah Turki pada umumnya, toiletnya juga ada 2 macam, ala Turka (jongkok) dan ala Franca (duduk). Rumah host saya sangat simpel tapi semuanya tersusun efektif. Bel pintunya seperti yang jamak kita temui di sinetron Turki: suara burung bersiul :D. Saya diberi sepasang sandal untuk saya gunakan di dalam rumah. Orang Turki memang tidak terbiasa nyeker di dalam rumah.

Saya sekamar dengan anne (ibu), sang pemilik rumah. Saya mendapat sebuah sofabed untuk saya sendiri. Sofabed ini pada dasarnya adalah sofa tempat duduk biasa. Sandarannya bisa direbahkan untuk menjadi tempat tidur yang sangat nyaman. Kamar ini sebenarnya yang paling cozy, karena dilengkapi dengan soba, sebuah pemanas tradisional Turki. Jika sedang digunakan, anne akan memasukkan beberapa potong kayu ke dalamnya sebagai bahan bakar. Kalau malam-malam, setelah semua orang sudah tertidur, saya dan anne masih terjaga karena kami menonton sinetron Turki yang tak ada habisnya 🙂 .  Satu judul yang saya ingat adalah Kuçuk Gelin (pengantin wanita muda) 😛 Entah kapan judul itu akan masuk Indonesia, haha. Update 2017: ternyata ‘Kuçuk Gelin’ kemudian ditayangkan SCTV dengan judul ‘Kawin Paksa’ 🙂

Anne hanya bisa berbahasa Turki. Jadi, saya berkomunikasi dengan beliau melalui bahasa Turki saya yang hanya survivor level dan bahasa tarzan. Beliau rajin membangunkan saya untuk shalat Shubuh. Namaz, namaz, begitu kata beliau. Sebelum tidur, biasanya anne akan menyelimuti dan mengecup saya. Berasa anak kecil, hihi. Orang Turki memang affectionate. Di jalanan, saya juga melihat cowok-cowok gandengan tangan. Bukan kenapa-kenapa, kebiasaannya memang begitu.

Hari-hari saya di Konya sangat santai. Pagi-pagi, semua orang bangun untuk shalat Shubuh seiring kumandang oleh adzan dari mushalla yang ada di dekat rumah. Adzannya didahului oleh bunyi sirene, hehe. Setelah shalat, sepertinya semua orang kembali bermalas-malasan di tempat tidur. Mungkin karena itu musim dingin 🙂

Setelah agak siang, para wanita akan turun ke dapur dan menyiapkan sarapan. Biasanya, hidangan pagi adalah roti dan selai atau mentega, susu, irisan tomat dan telur dadar. Kami makan lesehan. Sebuah kain dihamparkan di lantai, lalu nampan besar diletakkan di atasnya. Kami lalu mengelilingi nampan besar tersebut dan meletakkan sisa kain di pangkuan. Lalu kami makan. Selesai makan, kain digulung dan dibersihkan dari remah-remah.  Satu malam, saya diajak makan malam ke rumah abla, kakak perempuan host saya, yang tak jauh dari sana. Beruntungnya saya, diberi kesempatan untuk melihat keseharian orang Turki.

konya-makan

Kiri: Menu makan siang; Kanan: Sarapan

konya-makan3

Kiri: menu makan malam; Kanan: kumpir

Sedikit banyak, saya melihat bagaimana orang Turki menyiapkan makanannya. Teh Turki (çay) yang terkenal itu contohnya, sepertinya harus disajikan dalam gelas kecil yang ramping di bagian tengahnya itu. Saya juga belajar cara menyajikannya. Çay harus diseduh dengan çaydanlık. Pertama, air direbus dulu di dalam bagian bawah çaydanlık. Kedua, setelah mendidih, air yang mendidih tadi disiramkan ke dalam çaydanlık bagian atas yang sudah diisi dengan daun teh. Ketiga, rebus kembali air di dalam çaydanlık bagian bawah dengan çaydanlık bagian atas. Pada waktu akan diminum, teh dari bagian atas çaydanlık dituangkan ke gelas lalu ditambah dengan air matang dari çaydanlık bagian bawah.  Gula kubus ditambahkan sesuai selera. Menurut mereka, teh harus diminum hangat-hangat. Tapi saya biasanya menunggu dingin dulu. Kerongkongan saya terasa terbakar jika mengikuti cara orang Turki, hehe.

Cara memasak nasi di Turki juga berbeda. Mereka menambahkan mentega dan beberapa bumbu pada waktu menanaknya. Kurang cocok di lidah saya :). Nasi putih ala Indonesia malah aneh menurut mereka. Hambar, begitu pendapat mereka.

Jika berjalan-jalan ke pusat kota, kami akan mampir ke Istanbul Pastanesi. Kami minum teh atau kopi plus makan kue-kuenya yang sangat enak, mulai dari baklava, kunefe, tulumba, dan lain-lain. Tapi itu tak cukup bagi saya. Setelahnya, kami akan beralih ke kedai kebab di sebelahnya yang bernama Piknik’s Shawarma & Dürüm. Ini kedai kebab dengan sambel paling enak se-Turki.

konya-istanbulpas

Istanbul Pastanesi

Makanan favorit saya selama di Konya adalah telur dadar buatan anne, kumpir, kebab, kuru fasulye yang mirip kalio daging, kunefe, baklava, tulumba, dan semua kue-kue. Walaupun tak semua cocok di lidah saya, secara umum makanannya enak-enak. Masakan Turki tak ada pedas-pedasnya. Untuk menambah rasa pedas, saya menambahkan sambal ABC yang saya bawa dari Belanda. Saya masih kangen masakan Indonesia. Tapi tak apa, di Kayseri nanti, saya akan memasak Soto Padang. Acara makan seperti orang Turki di Turki jadinya hanya tinggal jargon, hehe.

Penduduk Konya tampaknya tak terlalu familiar dengan orang Indonesia. Jika saya di jalanan, banyak yang menyapa dengan ‘Konnichiwa’. Atau wajah saya agak membingungkan kali ya? Situasi menjadi semakin menarik begitu saya ikut shalat bersama mereka di masjid. Beberapa malah ingin berfoto bersama, berasa jadi selebritis, haha.

konyakota-ok

Pemandangan di pusat kota

Saya sangat puas di Konya. Saya bisa nge-mall di Kulesite, mengunjungi banyak tempat dan mendapatkan pengalaman yang luar biasa uniknya. Saya akan menceritakannya di postingan lain. Setelah selesai di Konya, saya melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Cappadocia, untuk melihat Taman Nasional Göreme dan naik balon udara sembari menikmati white Cappadocia!

Semuanya menyenangkan, alhamdulillah. Buat keluarga Ateş, teşekkür ederim! Saya jadi tahu bagaimana kebiasaan dan adat orang Turki.

Insya Allah, saya ingin ditakdirkan kembali ke kota ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s