Menyapa Istana Niavaran dan Istana Golestan di Tehran


dsc_0582

Dekorasi di Istana Golestan, Tehran

What is the use of gold land ornaments if the woman is ignorant? Gold and jewels will not cover up that blemish. — from “Iranian Women”

(Parvin Etesami, a female poet from Qajar Dinasty)

Setelah menyelesaikan kunjungan di Qom, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Tehran. Jalanan sangat padat oleh mobil-mobil yang berjejal menuju dan keluar Iran. Keadaannya mirip dengan jalanan tol menuju Jakarta. Ketika minibus kami mulai memasuki ibukota Iran ini, hawa-hawa metropolis mulai terasa. Walaupun ketika itu, senja mulai berganti dengan malam, saya bisa melihat dengan jelas kesibukan kota ini. Pertokoan modern di mana-mana. Orang-orang berlalu-lalang. Saya tak melihat wanita ber-chador sewaktu itu. Kebanyakan wanita memakai tunik, celana panjang, dan menutup kepala, dan seringnya berselendang ala “Mbak Tutut”, jadi poni dan jambulnya masih nyembul di depan 🙂

Setelah drama berputar-putar tak jelas demi mencari hotel, akhirnya kami sampai juga di hotel yang sudah di-booking. Setelah check-in, saya mandi dan ingin tidur saja. Beberapa teman ada yang keluar dan menyusuri Vali Asr Street, yang merupakan jalan yang terpanjang di Timur Tengah, yaitu 17,9 km. Jalan ini dibangun pada era Shah Reza Pahlavi, dan sudah berkali-kali berganti nama, mulai dari Pahlavi Street, Mossadeq Street, lalu Valiasr Street, yang merupakan nama lain dari Imam ke-12 Syiah.

Tehran sendiri merupakan kota yang baru berkembang pada zaman yang sudah mulai modern. Kota ini dipilih sebagai ibukota negara pada masa dua dinasti terakhir Iran, yaitu Qajar (1789-1925) dan Pahlavi (1925-1979). Setelah Revolusi Islam pada tahun 1979, Tehran tetap dijadikan pusat pemerintahan. Tak heran, kota ini didominasi nuansa modern.

Buat saya pribadi, Tehran identik dengan film Children of Heaven, yang menceritakan perjuangan seorang anak untuk mendapatkan sepatu. Film yang berlatar belakang Tehran itu sangat menyentuh dan mengajarkan nilai-nilai tentang keluarga, kerja keras, kejujuran dan semangat pantang menyerah. Saya tak pernah bosan menontonnya. Konon, film ini memang menampilkan realita yang terjadi di Iran pada umumnya.

Istana Niavaran adalah kunjungan pertama di Iran. Kompleks Istana ini dibangun pada masa dinasti Qajar atas perintah Naser-aldin Shah, dan terletak di Tehran bagian Utara, wilayah kelas atas Tehran.

dsc_0521

Bagian depan Niavaran House

Ketika dinasti Pahlavi mengambil alih Iran, kompeks istana ini dijadikan salah satu dari tempat tinggal keluarga kerajaan dan menambahkan Niavaran House. Dari beberapa bagian kompleks istana Niavaran, kami hanya memasuki Niavaran House ini, dengan membayar 150000 Rial Iran. Untuk memasuki bagian lain di kompleks ini, tiket masuk harus dibeli lagi.

Niavaran House ini merupakan tempat tinggal keluarga Pahlavi. Ada ruang tamu, ruang makan, ruang kerja, perpustakaan, kamar Shah Muhammad Reza Pahlavi dan istri ketiganya, Shahbanu Farah Diba, dan kamar anak-anak mereka.

Menurut saya rumah ini tidak terlalu besar. Mungkin bisa dibilang sederhana untuk ukuran keluarga kerajaan. Interiornya juga lebih Europe-ish, ketimbang motif floral dan geometrik yang biasa ditemukan di rumah-rumah klasik Persia. Dari keterangan yang disediakan, karpet-karpetnya masih berasal dari Iran, tetapi kebanyakan perabotnya dikirim dari Eropa.

Namun istana ini cukup canggih. Lotengnya bisa terbuka dan tertutup sesuai keinginan. Satu set bioskop pribadi yang ekslusif juga tersedia di sini.

This slideshow requires JavaScript.

Kompleks istana ini tetap terjaga semasa Revolusi Islam pada tahun 1979 mengingat meningkatnya rasa antipati terhadap keluarga Shah. Setelah revolusi, keluarga Shah Pahlavi meninggalkan Iran, berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, dan saat ini menetap di Amerika Serikat. Mereka mendirikan pemerintahan pengasingan dengan Reza Pahlavi, putra pertama Shah Muhammad Reza dan Farah Diba, sebagai kepala pemerintahannya. Mereka punya pengikut yang sangat banyak yang menginginkan Dinasti Pahlavi kembali berkuasa di Iran.

Kami tak lama di kompleks istana Niavaran dan segera menuju Istana Golestan.

Golestan berasal dari dua kata: Gol (mawar) dan Istan (tanah). Secara harfiah, Golestan berarti tempat (tumbuhnya) mawar. Versi Turkinya adalah Gülistan  :). Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan oleh dinasti Qajar di atas bekas benteng yang didirikan Dinasti Safavid dan Zand. Pada zaman Dinasti Pahlavi, istana ini dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu. Shah Reza dan Shah Muhammad Reza dari Dinasti Pahlavi dikukuhkan sebagai Shah di istana ini. Tiket masuk umum untuk melihat-lihat dari halaman adalah 150000 Rial Iran. Masing-masing bagian dari kompleks ini memerlukan tiket masuk tambahan.

Kompleks istana ini mempunyai banyak sekali bangunan dan ruangan yang masing-masingnya memiliki fungsi khusus. Kombinasi pengaruh Eropa dan Persia terlihat jelas. Sewaktu Pahlavi mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Qajar, beberapa bangunan yang mempunyai ciri tradisional dihancurkan dan diganti dengan bangunan yang berciri Eropa karena dianggap lebih modern. Satu bagian istana didedikasikan untuk koleksi foto atas perintah Naser-aldin Shah dari Dinasti Qajar, salah seorang pionir dunia fotografi di Iran.

Terus terang, saya lebih suka Istana Golestan daripada Istana Niavaran karena nuansa Persia-nya lebih terasa. O, iya. Istana yang menjadi tempat persemayaman terakhir Naser-aldin Shah dari Dinasti Qajar ini sudah dideklarasikan sebagai UNESCO World Heritage Site.

This slideshow requires JavaScript.

Sebagai penggemar istana dan kastil, saya sebenarnya ingin sekali masuk ke dalam dan menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari semuanya. Sewaktu di Turki, saya bisa menghabiskan waktu setengah hari di Istana Topkapı dan 3.5 jam di Istana Dolmabahçe di Istanbul, Turki. Sayang sekali, mayoritas teman-teman yang lain tampaknya tak terlalu berminat…

Di sebuah sudut istana, terdapat sebuah photo booth dengan kostum baju keluarga kerajaan dari Dinasti Qajar. Saya tak mau melewatkan kesempatan ini dan alhamdulilah berhasil berfoto. Foto ini akan melengkapi foto lainnya, antara lain foto memakai baju tradisional Belanda, baju bangsawan Turki, baju bangsawan Andalusia dan yang lainnya. Senang!

dsc_0590

Latar Photo Booth

Selesai berkunjung di Istana Golestan, kami pulang ke hotel dan lalu ngabuburit di sekitar Valiasr untuk mencari oleh-oleh dan makanan. Walaupun masih ada beberapa tempat lagi yang akan dikunjungi di Tehran, grand trip ini sudah mencapai anti-klimaksnya.

http://www.golestanpalace.ir/en/contact-us.html

Tips dan trivia:

  • Gedung-gedung pemerintahan di Iran, termasuk Tehran, sebaiknya tidak difoto untuk menghindari masalah.
  • Mempelajari sedikit sejarah dan hal-hal yang menarik dari dua istana ini akan lebih baik, sehingga kita bisa lebih mengapresiasi istana tersebut dan memaksimalkan kunjungan, lebih bermakna dari sekadar foto-foto, menurut saya.
  • Sewaktu di Tehran dan di kota lain juga sebenarnya, akan banyak sekali ditemui orang-orang yang batang hidungnya di-plester. Ini adalah operasi plastik. Lho, kenapa oplas? Kan udah mancung. Jawabannya, orang Iran memang sangat memperhatikan penampilan dan mereka punya standar kesempurnaan yang berbeda dari kita. So, ya begitulah…
  • Harga-harga souvenir di Tehran lebih mahal. Jadi, jika berkunjung ke kota lain dan menemukan barang yang bagus di sana, sebaiknya langsung dibeli saja.
Advertisements

2 thoughts on “Menyapa Istana Niavaran dan Istana Golestan di Tehran

  1. Pingback: Lebih Lanjut tentang Tehran – Cerita Jalan-jalan

  2. Pingback: Tips & Trik Jalan-jalan ke Iran – Cerita Jalan-jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s