Menengok Masjid-masjid di Rotterdam, Belanda


Het kan niet zo zijn dat iemand van ons allen eist dat we zijn opvattingen respecteren en tegelijkertijd niet bereid is de opvattingen van anderen te respecteren

Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menghormati pandangan kita jika kita tak bisa menghormati pandangan orang lain juga

(Ahmed Aboutaleb, Walikota Rotterdam incumbent)

Rotterdam akan selalu menjadi kota yang mendapat tempat di hati saya. Kenapa tidak, saya pernah tinggal di sana, bekerja di sana, berlangganan RET, menjalani kehidupan di sana – punya huisarts (dokter umum), tandarts (dokter gigi), tukang jahit langganan, tempat belanja daging halal langganan, hammam langganan, dan terdaftar pula sebagai anggota gym khusus perempuan di sana. Dan saya selalu mensyukuri masa-masa itu.

Ik was Rotterdammer geweest! 

Rotterdam adalah salah satu kota metropolitan di Belanda dan tergabung dalam Randstad (kira-kira diartikan sebagai gabungan kota metropolitan Belanda) bersama dengan Amsterdam, Den Haag, dan Utrecht). Rotterdam terletak di Propinsi Zuid Holland, dialiri oleh Sungai Maas, yang menghubungkannya dengan Jerman dan Eropa Tengah melalui Delta Rhine-Meuse-Scheldt.

Turis mancanegara mungkin tidak terlalu tertarik untuk mengunjungi Rotterdam karena penampakannya yang gak Belanda-belanda banget 😛. Memang, Rotterdam tidak seperti kota-kota lain yang dipenuhi apartemen yang dibangun pada masa sebelum Perang Dunia ke-1 dimulai. Dulunya, Rotterdam juga terlihat seperti Den Haag atau Amsterdam ataupun Utrecht, yang cantik dan klasik. Tetapi pada Perang Dunia ke-2, pada peristiwa yang dikenang sebagai Rotterdam Blitz, Nazi Jerman meluluhlantakkan kota ini dan hanya menyisakan sedikit dari bangunan klasiknya, antara lain Gedung Gementee dan kompleks apartemen saya di Schieweg :D.

Rotterdam pun dibangun kembali. Tapi sepertinya pemerintah mempunyai rencana lain untuk Rotterdam sehingga jadilah sekarang kota ini menjadi ikon futuristik di Belanda.

Insya Allah saya akan membuat postingan lebih lanjut tentang kota yang pernah menjadi tempat tinggal proklamator kita, Bapak Mohammad Hatta, yang namanya juga diabadikan sebagai nama salah satu gedung di Universiteit Erasmus Rotterdam.

Kota yang mempunyai pelabuhan terbesar di Eropa ini sejak tahun 2009 sampai tulisan ini dibuat dipimpin oleh seorang walikota yang beragama Islam, Ahmed Aboutaleb, yang lahir di Maroko. Buat saya, ini sesuatu yang menarik: minoritas yang lahir dari negara lain bisa menjadi pemimpin. Walikota di Belanda ditunjuk oleh kabinet pemerintah pusat, bukan pemilihan langsung. Bagaimanapun, ini tentunya menunjukkan sikap terbuka, berjiwa besar dan bertoleransi.

Persinggungan Islam dengan Belanda sudah dimulai sejak pedagang-pedagang dari Kesultanan Utsmaniyah singgah di Belanda pada abad ke-16. Pada tahun 1612, Utsmaniyah juga sempat memformalkan hubungan bilateral ini pada masa Sultan Ahmet I dengan Cornelius Haga, sebagai perwakilan Belanda yang waktu itu masih berbentuk Republik. Pengungsi Muslim (Moriscos) dari Andalusia, Spanyol setelah masa Reconquista yang dipimpin Ratu Isabella dan Raja Ferdinand juga sempat tinggal di sini sebelum akhirnya menetap di wilayah Utsmaniyah.

Pada abad ke-17, Belanda mulai masuk ke Indonesia melalui VOC. Ini juga memungkinkan orang Indonesia (termasuk Muslim) pergi ke Belanda, baik untuk tinggal, bekerja ataupun sekolah. Setelah perang kemerdekaan, jumlah ini meningkat, dengan migrasinya beberapa elemen penduduk wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Kebanyakan mereka merupakan bekas tentara KNIL, pro kemerdekaan untuk Maluku dan mereka yang merasa lebih cocok dengan pemerintahan Belanda. O, iya, karena menduduki Nusantara, Kerajaan Belanda sempat menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia pada tahun 1922-1945, yaitu pada masa sesudah jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah sampai dengan kemerdekaan Indonesia 🙂

Pada tahun 1960-70an, Belanda mulai berbenah dan memerlukan pasokan tenaga pekerja tambahan dari luar negaranya. Mereka menjalin kerjasama dengan Turki dan Maroko yang kemudian mendatangkan tenaga kerja dalam beberapa gelombang. Sesudah pekerjaan mereka selesai, tenaga kerja ini tidak pulang, tapi malah menetap di Belanda untuk mencari penghidupan yang lebih layak, sampai beberapa generasi selanjutnya.

Arus masuk kaum Muslim ditambah dengan pencari suaka dari negara konflik, pengungsi, tenaga kerja dan para (mantan) mahasiswa yang memilih tinggal. Sekarang, Islam menjadi agama terbesar kedua di Belanda setelah Kristen. Secara demografi, mayoritas mereka aslinya berasal dari Turki, Maroko, Indonesia, dan Suriname. Saya juga menemukan Dutch native yang memeluk Islam, karena alasan pernikahan atau karena memang tertarik kepada Islam.

Menjadi seorang Muslim di Belanda, dan khususnya Rotterdam tidaklah susah. Memang, sesekali tentu ada orang usil dan xenophobia, tapi persentasenya menurut saya tidak besar (atau mungkin saya-nya yang tidak peduli :P). Beberapa orang memang ada yang menatap berlama-lama, tapi biasanya mereka hanya bingung dengan bagaimana cara memasang hijab. Dan ada juga yang takjub melihat bros saya yang kebanyakan memang berukuran besar, hehe.

Restoran Indonesia tidak sebanyak yang ditemui di Den Haag atau Amsterdam. Tapi memcari makanan yang halal sangat mudah. Entah itu lumpia, makanan Turki, makanan Pakistan, makanan Persia, makanan Maroko, dan lain-lain. Toko penjual daging (slagerij) halal pun juga banyak, kebanyakan memang berada di lingkungan Muslim, seperti Delftshaven dan Rotterdam Noord. Penjual kerudung atau baju Muslim, tinggal pilih saja. Saya biasanya membeli di toko Maroko atau Turki, karena toko Indonesia belum ada di sana. Saya melihat bisnis yang berbau Islam ini didominasi oleh oleh komunitas Turki atau Maroko, orang Indonesia tidak pernah kelihatan membuka toko daging atau toko pakaian Muslim. Dari yang saya perhatikan, sepertinya orang (keturunan) Indonesia lebih senang membuka bisnis restoran atau bumbu dapur.

Untuk tempat beribadah, ada beberapa pilihan masjid. Komunitas Indonesia mempunyai beberapa pilihan tempat yang dikelola oleh orang Indonesia dan tentu saja ceramahnya menggunakan bahasa Indonesia (dan kadang-kadang malah Dutch). Kebanyakan masjid ini bukanlah masjid dengan kubah dan minaret, tapi berupa ruangan atau gedung yang disewa. Walaupun begitu, saya sangat senang dan bersyukur sekali berkumpul dengan banyak rekan senegara, dan juga karena makanannya :D.

Rotterdam mempunyai banyak sekali masjid atau ‘moskee’, dalam bahasa Belanda-nya. Saya tidak tahu jumlah pastinya. Tapi yang jelas, tidaklah sulit menemukan masjid di Rotterdam, terutama di area yang memang padat oleh imigran Turki atau Maroko. Karena ini, sampai-sampai ada sebagian native secara sarkastik yang menyebut Belanda dengan ‘Hollandistan’ :))

Berikut adalah beberapa masjid yang saya sempat saya dokumentasikan.

Masjid Bait Ar Rahman yang beralamat di Johann Sebastian Bachstraat di Ridderkerk. Masjid ini dibangun oleh komunitas Muslim Maluku pada tahun 1984. Saya hanya sekali berkunjung ke masjid ini pada waktu mabit akhir tahun yang diselenggarakan oleh komunitas Muslim Indonesia.

rot4

Dari yang saya lihat waktu itu, masjid ini cukup besar, bisa menampung paling tidak 100 jamaah pria dan wanita. Masjid ini mempunyai ruang shalat utama yang terdiri dari satu lantai, toilet dan tempat wudhu yang cukup luas. Masjid yang sangat populer pada kalangan Muslim Indonesia ini juga mengadakan pelajaran mengaji kepada anak-anak, mungkin sekali dalam 2 minggu.

rot5

rot6

Masjid yang kedua adalah Masjid Essalam, yang terletak di Vredesplein, tak jauh dari stadion De Kuip, Feijenoord, klub kebanggaan warga Rotterdam. Masjid yang bisa menampung 1500 jamaah ini merupakan masjid terbesar di Belanda yang baru diresmikan pada tahun 2010, lebih lambat 5 tahun dari waktu yang direncanakan. Pembangunannnya sempat terbengkalai dikarenakan faktor eksternal (penolakan dari beberapa pihak) dan faktor internal (finansial, kepengurusan, dll). Pembangunannya memakan biaya sebanyak EUR 4 juta, yang ditanggung oleh sebuah yayasan dari UAE.

rot1ok

Masjid Essalam dirancang dengan arsitektur Timur Tengah oleh arsitek berkebangsaan Belanda Wilfried van Winden. Pintu masuk dan jendelanya diberi aksen setengah lingkaran yang mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah ataupun Mezquita di Andalusia. Ruang shalat dibagi menjadi dua: lantai tiga untuk wanita dan lantai satu-dua untuk pria. Cahaya masuk secara alami melalui kubah yang diapit oleh 2 minaret setinggi 50 meter. Selain ruang shalat, masjid ini mempunyai halaman yang sangat luas, toko, dapur, serta ruang pertemuan. Kebanyakan jamaahnya adalah komunitas Maroko dan Timur Tengah lainnya.

Jika kita menaiki kereta dari arah Den Haag mendekati Stasiun Rotterdam CS, di sebelah kanan kereta kita akan melihat 2 buat minaret langsing yang menjulang. Itu adalah minaret dari Masjid Mevlana di Mevlanaplein, sebuah masjid yang dikelola oleh komunitas Turki di Rotterdam. Namanya diambil dari Mevlana Jalaluddin ar-Rumi, sufi Persia yang menjadi kebanggaan daratan Anatolia. Pada tahun 2006, masjid ini mendapat predikat sebagai Bangunan Paling Menarik di Rotterdam

rot11ok

Masjid Mevlana

Saya paling sering berkunjung ke masjid ini. Tak hanya karena saya suka atmosfer damai di dalam masjid, jadi juga keindahan daerah sekitarnya yang dialiri sungai Delftshavense Schie, terutama di sore hari sembari menunggu shalat Magrib. Duduk di sana sambil mengambil foto atau ngobrol dengan teman di bangku di pinggir sungai sempat menjadi salah satu aktivitas favorit saya di Rotterdam. Sebelumnya, saya makan dulu di Restoran Meram, sebuah restoran Turki yang berada di dekat jembatan Mathenesserbrug, tak jauh dari Mevlanaplein. Biasanya, jadwal makannya diatur-atur sedemikian rupa supaya bisa sekalian berkunjung ke Masjid Mevlana.

rot2ok

rot3ok

Masjid Mevlana dibangun dengan arsitektur Turki yang cantik. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, ruang shalat pria berada di lantai 1 sedangkan untuk wanita di lantai 2, yang masing-masingnya dilengkapi dengan toilet, ruang wudhu dan loker sepatu. Selain itu, terdapat pula perpustakaan, kantor pengurus, serta ruang pertemuan. Jamaahnya kebanyakan merupakan komunitas Turki. Pengurusnya sangat ramah. Saya pernah ditawari lokum (manisan Turki) sewaktu berkunjung ke sini 🙂

Menjadi bagian dari kaum minoritas mengajari saya akan banyak hal. Tentang menahan diri, kebiasaan negara host, menghormati budaya setempat, menyesuaikan diri untuk kepentingan yang lebih mendahulukan mayoritas, menjadi diri sendiri dan lepas dari peer pressure serta membangun keberanian stand up untuk diri sendiri. Dan yang paling penting, bagaimana memperlakukan komunitas minoritas dengan baik jika saya yang berada di posisi mayoritas 🙂

Advertisements

One thought on “Menengok Masjid-masjid di Rotterdam, Belanda

  1. Pingback: Pengalaman Pertama ke Hammam – Cerita Jalan-jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s