Tersesat di Granada!


img_0437

I want the Arabic Granada, that which is art, which is all that seems to me beauty and emotion

(Isaac Albeniz, Spanish pianist and composer)

Dari Madrid, bus Alsa yang saya tumpangi melesat ke Granada, di Propinsi Granada di wilayah Andalusia. Saya sudah memesan bus ini secara online sebelumnya. O, iya, pada waktu itu, tiket online tersebut harus dipesan dengan kartu debit keluaran Spanyol atau kartu kredit terbitan Eropa. Kartu debit Maestro keluaran ABN AMRO andalan saya tentu saja tidak berlaku. Akhirnya, saya harus meminta bantuan seorang teman yang memiliki rekening di bank Spanyol untuk melakukan ini.

Kenapa saya tidak menggunakan kereta api Renfe?

Maunya sih begitu. Tapi tiket Renfe kan lebih mahal daripada bus. Kantong saya yang ala mahasiswa bisa cepat kempes nantinya 🙂

Tapi perjalanan dengan bus sangat worth it kok. Busnya sangat nyaman, walaupun tidak dilengkapi toilet. Sebelas dua belas lah dengan bus Eurolines, menurut saya. Tapi memang tidak senyaman bus dari Berlin ke Praha yang pernah saya tumpangi akhir Desember 2009 silam, yang dilengkapi toilet yang bersih dan diberi suguhan makanan kecil. Sayang sekali saya lupa namanya.

Jalanan menuju kota Granada sangat bagus dan pemandangannya sangat indah. Kami juga sempat berhenti di tengah perjalanan untuk istirahat dan membeli makanan. Perjalanan ditempuh dalam jangka waktu kira-kira 5 jam.

Menjelang tengah hari, kami memasuki Granada. Pemberhentian terakhir bus Alsa adalah di Estacio de Auto buses de Granada. Dari sana, saya naik bis satu kali menuju Hostel Alcazaba, yang terletak di tengah kota Granada.

img_0304

Hostel Alcazaba, EUR 18 per malam, single bed, private bed room

Granada adalah kota yang sangat kalem dan jauh dari hiruk-pikuk. Tidak seperti Madrid apalagi Amsterdam. Tidak terlalu besar dan tidak kecil, dan dilengkapi oleh infrastruktur yang sangat lengkap. Granada kemudian menjadi salah satu kota favorit saya. Jika diberi kesempatan, saya bersedia tinggal di kota ini!

Mencari makanan halal di Granada tidaklah susah di kala itu. Di sekitar pusat kota, yang paling jelas adalah kebab Turki dan restoran Maroko. Ada makanan China dan Thai yang halal juga yang saya temukan. Selain itu ada gerai McDonald dan makanan cepat saji lainnya. Dan tentunya, makanan Spanyol juga bertebaran di mana-mana. Paella? Hmm, yummy!

Apa yang membuat Granada begitu menarik?

Ada beberapa alasan yang membuat saya datang ke Granada, antara lain:

  • Kompleks Istana Al Hambra, istana merah peninggalan Dinasti Nasrid yang tersohor kemana-mana. Selain Istana Nasrid, di dalam kompleks yang sama terdapat benteng Alcazaba, Istana Charles V, dan Taman Generalife. Kompleks ini merupakan cagar UNESCO World Heritage.
  • Al Bayzin, kompleks perumahan peninggalan kaum Moor dan salah satu cagar UNESCO World Heritage.
  • Katedral Granada.
  • Royal Chapel of Granada, yang merupakan kompleks makam Ratu Isabella de Castillo, Raja Fernando de Aragon, beserta putrinya Ratu Juana de Castillo dan menantu mereka Raja Philip Yang Tampan aka Philip The Handsome (iya! Ini gelarnya :))

Saya pernah menonton beberapa film yang berkaitan dengan masa renconquista (penaklukan kembali oleh pihak Katolik Spanyol) dan yang saya rekomendasikan adalah Film Juana La Loca dan TV Seri Isabel.

Setelah menikmati makan siang di salah satu kedai kebab di dekat hostel saya, saya berniat berjalan-jalan dulu. Jadwal kunjungan saya ke Granada adalah keesokan harinya. Salah seorang teman menyarankan saya untuk membeli tiket secara online untuk mengantisipasi antrian yang bisa saja mengular. Antrian adalah hal yang sedapat mungkin saya hindari karena menghabiskan waktu dan bisa merusak rencana lain. Cara pembelian tiket online ini Insya Allah akan dibahas pada postingan selanjutnya.

img_0321-horz

Al Hambra sudah terlihat dari kejauhan

Sementara itu, Istana Al Hambra sudah terlihat dengan jelas dari tempat saya berdiri ketika itu. Saya berniat untuk melihat-lihat dulu sekalian mempelajari kota Granada supaya saya lebih siap keesokan harinya. Saya hanya melihat Al Hambra sebagai patokan lalu mengambil jalan apa saja yang mengarah ke sana.

Tak lama kemudian, saya sudah berada di tengah-tengah perkampungan yang rumahnya didominasi oleh warna putih. Perkampungan ini mengingatkan saya akan Tubagus Ismail Dalam di Bandung dengan jalan naik-turunnya :). Al Hambra terlihat jelas, berdiri dengan anggun di atas bukit yang ada di depan saya. Tapi tak terlihat gerbang atau jalanan. Petunjuk jalan juga tak saya temukan.

Saya tersesat!

img_0364-horz

Mirip Tubagus Ismail Dalam bukan? Atau mungkin Pelesiran 🙂

Dan tak ada orang yang bisa ditanya dan perkampungan itu tak terlalu ramai. Saya bisa mendengar suara orang dari Istana Al Hambra, tapi saya tak tahu bagaimana menuju ke sana. Saya lalu memutuskan mengambil jalan besar saja. Dan orang-orang mulai terlihat ramai. Saya menyangka gerbang Al Hambra pastilah di sana. Saya terus mengikuti keramaian, terus berjalan, terus…terus…dan terus…hingga saya sampai pada pemandangan yang menakjubkan….

Al Hambra yang cantik ada di depan saya, di bukit seberang!

img_0378a

Capture Al Hambra pertama saya

Ternyata jalan yang saya ikuti tadi tidak menuju ke gerbang Al Hambra, tapi Mirador San Nicola, tempat paling tepat untuk memandang si istana merah dari kejauhan, dan perkampungan yang saya lewati tadi adalah Al Bayzin. Saya sudah memasukkan ini ke dalam itinerary, tapi seharusnya ini untuk keesokan harinya.

Sayup-sayup terdengar suara takbir. Saya hampir tak percaya lalu melihat sekeliling untuk memastikan. Agak tidak mungkin mendengar adzan di area seperti itu, pikir saya. Subhanallah, ternyata di sebelah Mirador San Nicola itu terlihat sebuah minaret. Dan suara yang saya dengar tadi adalah adzan Magrib. Masjid itu ternyata adalah Mezquita Mayor de Granada yang merupakan masjid pertama yang dibangun di Granada setelah jatuhnya Granada ke tangan kekuasaan Katolik pada tahun 1492. Pembangunan masjid ini diselesaikan pada tahun 2003.

img_0396-horz

Mezquita Mayor de Granada, masjid pertama sejak tahun 1492

img_0415-horz

Menghadap Al Hambra

Mezquita de Granada dikelola oleh orang keturunan Maroko. Saya sempat mengobrol sebentar dengan mereka. Mereka juga membenarkan bahwa di sekitar Al Bayzin memang terdapat sejumlah polulasi Muslim, yang berasal dari imigran Turki dan negara Afrika Utara, serta native Spanyol yang beragama Islam. Masjid ini memiliki interior dan eksterior bergaya Hispano-Moorish. Halamannya menghadap langsung ke Istana Al Hambra.

Saya sangat menikmati waktu di Mirador San Nicola ini. Pengunjung lainnya juga terlihat bersantai-santai. Ada makanan kecil juga yang dijual di sana. Ini adalah tersesat yang berakhir baik.

img_0445

Mirador San Nicola, menghadap Al Hambra dan kota Granada

Ketika hari sudah mulai gelap, saya kembali turun ke bawah menuju pusat kota. Kali ini tidak berjalan kaki lagi, tapi dengan minibus yang ngetem di dekat sana. Saya harus menghemat tenaga untuk trip impian masa kecil yang direncanakan untuk keesokan harinya.

Advertisements

4 thoughts on “Tersesat di Granada!

    • Semoga diberi kemudahan untuk berkunjung kesana. Granada dan Sevilla itu 2 kota yang berbeda. Sama-sama di wilayah otonomi Andalusia.

      Btw, makasih sudah berkunjung 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s