Trip Satu Hari ke Giethoorn, Negeri Dongeng dari Belanda


g0

Giethoorn

Beter allen, dan in kwaad gezelschap  (Dutch Proverb)

Saya pertama kali mendengar kata ‘Giethoorn’ sewaktu saya mengikuti Boatweek, satu metode kuliah Sustainable Development dari kampus, di mana perkuliahan dilaksanakan di atas kapal selama kurang lebih satu pekan. Kami tidur, mandi, makan di atas kapal tersebut. Kapal tersebut mengitari beberapa kota di Belanda, seperti Utrecht, Delft, Rotterdam, Leiden, Haarlem dan berakhir di Amsterdam. Sesekali kami turun untuk melakukan observasi, mengambil data atau kunjungan ke industri yang sudah tergolong sustainable.

OK, balik lagi ke Giethoorn. Desa ini terletak di daerah Steenwijkerland, Propinsi Overijssel, Kerajaan Belanda. Desa ini menjadi booming setelah Bert Haanstra, seorang pembuat film asal Belanda, membuat film komedinya yang berjudul ‘Fanfare’ di sini pada tahun 1958.

g1

Penampakan di sekitar Stasiun Steenwijk

Tidak sulit untuk menemukan Desa Giethoorn ini. Saya berangkat agak pagi dari Rotterdam Centraal, menuju Stasiun Utrecht Centraal. Dari Utrecht CS, saya mengambil kereta menuju Leuwaarden dan memastikan bahwa kereta tersebut akan berhenti di Stasiun Steenwijk. Sebelum sampai di Steenwijk, ada beberapa beberapa stasiun besar yang dilewati, seperti Amersfoort dan Zwolle.

Setelah sampai di Steenwijk, saya keluar dari stasiun lalu menuju terminal bus yang terlihat jelas dari sana. Saya lalu mengambil Bus 70 OV Regio IJselmond yang menuju Zwartsluis, yang hanya tersedia satu kali dalam satu jam. Ada café di sekitar stasiun sehingga bisa kita bisa ngupi-ngupi cantik dulu di sana sambil menunggu bus. Dengan menaiki bus ini untuk sampai di Giethoorn, saya berhenti di halte bus Domine Hylkemaweg. Namanya Frisian sekali ya…

g2

Menuju Giethoorn

Jika malas menunggu, ada opsi lain untuk menuju Giethoorn dari Stasiun Steenwijk, yaitu sepeda yang disewakan seharga EUR 20 per hari.

Total waktu perjalanan dari Rotterdam CS sampai ke halte bus ini adalah sekitar 2,5 jam. Biaya yang harusnya saya keluarkan adalah sekitar EUR 30 untuk sekali jalan. Tapi karena saya memakai tiket Kruidvaart (tiket diskon yang dijual sebuah jaringan toko kelontong), harganya menjadi sangat murah dan meriah, pulang pergi bisa belasan Euro sajah 🙂

Begitu sampai di halte, Desa Giethoorn bisa ditemukan pada sisi jalan yang sama dengan halte. Penampakan yang biasa kita lihat di internet belum terlihat di pinggir jalan ini. Saya menyusuri jalan yang di di sebelah kirinya terdapat kanal kecil dan dipenuhi oleh jejeran perahu sewaan, sampai akhirnya saya menemukan kompleks perumahan yang membuat saya terkagum-kagum 🙂

Saya seperti terlempar ke negeri dongeng. Ini adalah kompleks bangunan yang mencakup perumahan, peternakan dan museum dengan gaya dari abad pertengahan yang saya lihat di film kartun atau bertema fairy-tale.

g3

Nuansa vintage juga terasa sekali di sana. Saya sendiri tinggal di apartemen yang cukup tua ketika itu, yang dibangun tahun 1930an, dan selamat dari Peristiwa Rotterdam Blitz pada waktu Perang Dunia ke-2. Itu juga cukup kuno menurut saya. Ternyata ada yang masih jauh lebih kuno dan tetap tegak sampai sekarang.

Giethoorn ini sangat unik. Daerah yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh kanal-kanal kecil yang keseluruhannya sepanjang 4 mile. Ada 170 buah jembatan kayu sederhana untuk menghubungkan satu sisi dengan yang lainnya, dan tentunya dirancang untuk dilewati oleh sepeda dan pejalan kaki. Sarana transportasi utamanya adalah transportasi yang bergerak di atas air, seperti sampan, rakit, perahu dan punt (perahu khas Giethoorn). Di sisi kanal, ada jalan setapak juga yang digunakan oleh pejalan kali dan orang yang bersepeda. Mungkin pada puncaknya musim dingin, Giethoorn punya ‘elfstedenstocht’-nya sendiri. Karena kanal-kanalnya ini, Giethoorn juga acapkali disebut “The Little Venice of the Netherlands”.

g4

g5

Rumah-rumah yang ada di kompleks Giethoorn juga menarik. Dindingnya terbuat dari tanah gambut dan batu bata di beberapa bagian. Atapnya terbuat dari ijuk dan jerami. Walaupun terlihat kuno, saya sudah melihat pemakaian listrik di sana. Beberapa rumah sudah menggunakan bingkai aluminium pada jendelanya. Bunga dan tanaman di sekitar rumah menambah keasrian pemandangan.

Keunikan Giethoorn ini tidak terlepas dari sejarah desa ini sendiri. Menurut hikayat kerajaan Belanda, sekitar tahun 1230 SM, sejumlah pelarian dari Laut Mediteriania memutuskan untuk menetap di sini. Mereka menemukan banyak tanduk kambing (geytenhoren) di tanah tersebut, yang kemungkinan disebabkan oleh banjir besar pada abad ke-10 di daerah itu. Mereka menyebutnya Geytenhoren, dan lama-kelamaan menjadi Giethoorn.

Untuk membangun rumahnya, para pemukim pemula yang berjumlah sekita 2600 orang itu menggali tanah hingga membentuk danau yang sekarang disebut sebagai Danau Bovenwijde. Untuk membawa tanah gambut tersebut ke lokasi rumah yang mereka inginkan, mereka harus membangun parit sedalam 1 m. Parit inilah sekarang menjadi kanal yang menjadi ciri khas Giethoorn.

Saya menyempatkan diri untuk naik perahu untuk mengelilingi Giethoorn yang indah ini untuk melihat bagian yang tidak bisa dicapai dengan berjalan kaki, terutama Danau Bovenwijde dengan pulau kecil di tengahnya. Desa itu memang sangat indah di semua sisinya!

g6

Kiri: Danau Bovenwijde; Kanan: Jalan setapak di Giethoorn

Selain naik perahu, saya juga menyempatkan makan siang di salah satu café dan melihat-lihat museum yang menunjukkan bagaimana penghuni Giethoorn menjalani hidupnya. Selanjutnya, sisa hari itu saya habiskan untuk duduk-duduk di bangku yang disediakan di sana.

Sebenarnya, pengunjung juga diperbolehkan berlayar dengan perahunya sendiri selama tidak mengeluarkan suara yang ribut karena ketenangan yang menjadi ciri khas Giethoorn harus tetap terjaga.

Kalau saya perhatikan, kebanyakan turis berasal dari Asia, terutama Tiongkok dan Timur Tengah. Ada yang pergi dengan tur dan ada pula yang pergi sendiri.

Menjelang petang, saya naik Bus 70 lagi untu menuju Stasiun Steenwijk. Sebelum meninggalkan Steenwijk dengan kereta menuju Rotterdam CS, saya menyempatkan main ke centrum untuk mengambil beberapa foto.

Benar-benar kota yang kecil, bersih, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk.

g8

Centrum Kota Steenwijk

g7

Stasiun Steenwijk

Info tambahan:

  • Harga tiket masuk: G.R.A.T.I.S
  • Harga naik perahu: EUR 7 selama 1 jam
  • Website penting:
  • www.9292ov.nl  (Website perencana perjalanan door-to-door)
  • www.ns.nl (Website kereta api Belanda)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s