Moschea di Roma – Masjid Terbesar di Eropa


r0

Darkness can only be scattered by light, hatred can only be conquered by love

(Pope John Paul II)

Berkunjung dan tinggal di negeri di mana Islam menjadi minoritas merupakan hal yang gampang-gampang susah. Baik itu tentang mencari makanan halal, kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan, dan tentunya kenyamanan saat menjalankan ibadah, termasuk mempunyai rumah ibadah yang sangat layak.

Keberadaan Moschea di Roma di kota Roma, yang notabene juga mempunyai Vatican City – pusat agama Katholik dunia yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari masjid ini, memberikan perasaan hangat pada saya. Betapa tidak, ini menunjukkan arti toleransi yang antar umat beragama.

Moschea di Roma mulai dibangun pada tahun 1984 di atas tanah yang diberikan oleh Dewan Kota Roma, dan dirancang oleh arsitek yang berkebangsaan Italia dan Iraq. Sebagian besar pendanaan ditanggung oleh almarhum Raja Faisal dari Arab Saudi. Masjid yang bisa menampung 12000 orang jamaah ini diresmikan pada tahun 1995 oleh Presiden Italia saat itu, Sandro Pertini.

Saya mengunjungi masjid ini di luar waktu kunjungan resminya. Awalnya saya menyangka, karena saya Muslim saya akan diberi kebebasan tambahan untuk masuk ke dalam ruang shalat utama, tapi ternyata tidak. Ruangan shalat utamanya bahkan tetap terkunci walaupun pada waktu shalat dan hanya mushala di bawah saja yang digunakan. Jadinya saya hanya melihat-lihat pelataran, teras, tempat wudhu dan mushala yang berada di bawah saja. Alhamdulillah, saya masih sempat shalat Tahiyatul Masjid dan shalat Ashar di sana.

r1

Kiri: Tiang penyangga teras seperti tangan yang sedang berdoa; Kanan: Minaret, tak boleh pakai speaker dan tidak boleh lebih tinggi dari kubah St. Peter’s

Masjid ini sangat indah. Saya bisa merasakan kedamaian ketika berada di lingkungan ini. Jika diperhatikan, pilar yang menyangga atap terasnya mirip dengan tangan yang sedang berdoa.   Beberapa bagian dinding dilapisi oleh keramik dengan motif geometrik ala Afrika Utara dan Moorish. Beberapa bagian lain diberi motif floral, mungkin ala Persia, Mughal atau Turki. Lantainya dilapisi oleh karpet Persia yang sangat lembut menyentuh dahi saya ketika sujud. Ruang wudhu perempuannya sangat luas, tapi pada waktu itu tidak diberi cermin 🙂

r02

Kiri: ruang wudhu perempuan; Kanan: Design pintu

r3

Mushala lantai bawah

r2

Kiri: dekorasi dinding; Kanan: Karpet Persia

r4

Lantai bawah masjid

Pencahayaan ruang shalat utama juga mengesankan. Kubahnya dirancang sedemikian rupa sehingga cahaya matahari yang masuk bisa dipantulkan dan dipancarkan ke dalam masjid. Konon, ini merupakan manifestasi dari Surat An Nur ayat 35: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi…”.

r01

Ruang shalat utama. Pic credit: http://www.spreafotogrfia.it

Masjid ini dilengkapi dengan ruangan shalat utama, mushala yang berada di bawah, perpustakaan, ruang berkumpul, asrama, pelataran, taman, dan tempat parkir. Moschea di Roma tidak hanya rumah ibadah, tapi juga menjadi Centro Culturale Islamico d’Italia (Italian Islamic Cultural Centre) sehingga beberapa pelayanan untuk komunitas Muslim juga dilakukan di sini, seperti pengajian, madrasah agama untuk anak-anak, pernikahan, penyelanggaraan mandi dan shalat jenazah, perayaan keagamaan, dan lain-lain.

r5

Apakah ada yang menentang pembangunan masjid yang seluas 30000 meter persegi ini? Tentu saja, tapi mereda begitu Paus John Paul II memberikan restunya. Pada waktu pembangunan, tinggi minaret diatur sedemikian rupa sehingga tidak melebihi tinggi kubah St. Peter’s di Vatican City, paling tidak dengan selisih sepanjang 1 meter. Selain itu, minaret juga tidak boleh dipasang speaker. Cukup adil, menurut saya.

r6

Ada yang tau artinya, daftar kontributor, mungkin? Ada ‘Indonesia’ tertulis di sana 🙂

Masjid ini terletak di area Parioli, Roma bagian Utara dengan alamat Viale della Moschea 85. Saya pergi ke sana menggunakan kereta regional Roma – Viterbo dari Stasiun Flaminio – Piazza del Popolo yang merupakan stasiun pertemuan antara stasiun untuk kereta regional dan Metro Line A.

Ada beberapa macam kereta regional Ferrovia Roma – Viterbo ketika itu, maksudnya ada yang berhenti di stasiun yang besar saja tapi tidak di stasiun kecil, dan ada yang pasti berhenti di stasiun kecil, seperti halnya stasiun Campi Sportivi, tempat pemberhentian untuk Masjid Agung Roma ini.

Dari stasiun Campi Sportivi, masjid bisa dicapai dengan jalan kaki. Masjid ini tak terlalu terlihat dari stasiun kereta api karena tertutup oleh pepohonan yang sangat rimbun. Setelah turun dari kereta, keluar dari stasiun lalu berjalan sejauh 800 meter. Tak lama, masjid akan kelihatan.

Waktu itu saya juga kesasar karena saya tidak menaiki kereta yang berhenti di stasiun itu. Alhamdulillah, orang-orang Italia yang saya jumpai di kereta sangat baik hati walaupun kami berkomunikasi dalam bahasa tarzan. Dengan sabar, mereka menjelaskan di mana saya harus turun dan mengambil kereta balik yang pasti akan berhenti di Campi Sportivi. Grazie! 🙂

Berkunjung ke Moschea di Roma memberi banyak pelajaran kepada saya, antara lain tentang toleransi, kolaborasi yang indah antar agama dan latar belakang, dan bahwa orang Italia sangat ramah dan penolong :). Jika diberi kesempatan kembali ke masjid ini, saya akan menerimanya dengan senang hati.

Tips:

  • Masjid dibuka untuk umum pada hari Rabu dan Sabtu jam 9-11.30 pagi, yang artinya bisa masuk ke ruang shalat utama yang indah itu. Selain hari ini, bagian yang terbuka hanyalah ruang shalat yang berada di bawah.
  • Pada hari Jumat, ada bazar makanan Timur Tengah di pelatarannya.
  • Kunjungan untuk umum ditutup selama bulan Ramadhan, hari besar keagamaan Islam dan hari libur Italia.
  • Pengunjung perempuan harus memakai pakaian yang tertutup dan menutup rambut.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s