IKEA, H&M, dan ZARA


Disclaimer:

Tulisan ini membahas perilaku dan pola pikir sebagian masyarakat Indonesia terhadap brand luar negeri, bukan menjelekkan brand yang disebutkan.

***

Sedikit intermezzo tentang tulisan jalan-jalan ke Spanyol yang tertinda-tunda terus.

Sebulan yang lalu, saya akhirnya bertandang ke IKEA Alam Sutera, sebuah toko furniture asal Swedia, yang sebenarnya juga menjual pernak-pernik rumah tangga dan beberapa jenis makanan. Ya, sejak Oktober 2014 silam, IKEA resmi hadir di Indonesia, dengan PT Hero Supermarket sebagai pemegang lisensinya. Sebelumnya, IKEA yang paling dekat dengan Indonesia adalah di Singapura. Sehingga sangat wajar, jika kita mengunjungi si Kota Singa, produk IKEA adalah salah satu barang yang kerap kali diminta sebagai oleh-oleh.

Saya sendiri baru mengenal IKEA sejak tahun 2007 sewaktu berkunjung ke Houston. Di kala itu, saya diajak teman untuk berbelanja di sana. Konsepnya sangat menarik bagi saya. Item barang yang dijual dipajang dan dimodelkan secara visual sehingga kita seolah-olah memang berada pada dapur, kamar tidur, dan ruang tamu. Dengan melihat barang tertentu diaplikasikan, calon pembeli diharapkan lebih mendapat gambaran lebih jelas tentang barang tersebut. Untuk barang-barang besar, pembeli bisa mengambilnya di bagian Gudang. Pembeli bisa meminta memasangkan dan mengantarkannya ke rumah, tentu saja dengan bayaran tambahan. Kesan yang saya dapat, IKEA is just another furniture store.

Kemudian saya pindah ke Belanda untuk melanjutkan kuliah. Saya mendapatkan satu unit studio lengkap dengan isinya. Semua perabotan, termasuk piring-piring dan sikat lantainya bermerk IKEA! Beberapa orang ingin menambahkan beberapa jenis perabot dan peralatan lagi untuk kebutuhannya, dan mereka pun membelinya di IKEA Delft. Sepertinya, IKEA memang favorit para mahasiswa dan landlord.

Tapi apa alasannya? Ow..ow…Karena IKEA sangat murah! Dan tambahannya, design-nya pun sangat menarik. Benar-benar murah dan sangat meriah. Paket komplit yang sangat dicari-cari mahasiswa, termasuk saya 😊

Ketika kembali ke Indonesia, saya pun sibuk mencari apartemen dan kost, dan saya memang mencari yang sudah dilengkapi perabot. Tak usah yang banyak, tapi secukupnya saja. Beberapa penyewa mencantumkan spesifikasi jualannya dengan cukup detail, hingga saya sampai pada satu iklan kost ekslusif, dengan harga di atas Rp 3,5 juta/ bulan:

            “…Ekslusif, karena semua perabot adalah barang IKEA.”

Jadi, kost tersebut ekslusif karena semua perabotnya adalah barang IKEA? Dari situ saya menangkap kesan bahwa IKEA adalah barang yang begitu ekslusif (yang biasanya mahal) dan dibanggakan sehingga wajib dicantumkan. Well, ini memang subjektif. Tapi begitulah yang memang saya tafsirkan. Iklan senada yang saya temukan tak hanya satu, tapi ada beberapa.

Ternyata di Indonesia, IKEA adalah barang mewah, atau mungkin simbol gaya hidup kelas premium.

Kenapa jadi barang mewah? Entahlah. Penjelasan logis menurut saya, mungkin karena produk impor. Ditambah dengan biaya impor, harga produk harus naik sehingga nilai akhirnya hanya bisa digapai oleh orang-orang berduit lebih. Ini menyebabkan produk tersebut menjadi ekslusif. Karena menjadi ekslusif, muncul suatu prestise bagi pemakainya, karena tak semua orang bisa memilikinya, hanya orang-orang ‘terpilih’. Dan sebagian orang, sangat mengejar status orang-orang ‘terpilih’ ini.

Pada akhirnya, saya memang memutuskan satu unit akomodasi yang memang memakai produk IKEA ini, hehe. Bahkan, sikat penggosok toilet yang disediakan pun juga ber-merk IKEA. Sepertinya sang pemilik memang IKEA-minded. Saya memilih unit ini bukan karena IKEA-nya, tapi karena lokasi tempat tersebut memang strategis dan mudah dicapai dari mana-mana. Tapi sebenarnya saya juga suka produk IKEA, bukan karena produk tersebut berasal dari Swedia, tapi karena design-nya bagus, sama uniknya dengan produk-produk lokal.

Selain IKEA, ada beberapa brand lagi yang di luar negeri sepertinya biasa-biasa saja, tapi di Indonesia naik beberapa tingkat menjadi high-end, salah duanya H&M dan Zara.

Saya masih ingat bagaimana euforia masyarakat sewaktu H&M mau masuk ke Indonesia. Saya waktu itu hanya heran. Di Belanda, H&M mungkin sekelas dengan Matahari di Indonesia, yang kalau lagi sale juga senggol sana senggol sini. Di Indonesia, H&M hanya hadir di mall-mall premium, sekelas Kokas, LOVE, dan Grand Indonesia. Saya sampai berpikir, jangan-jangan masyarakat Indonesia juga berpikir bahwa H&M berada pada level yang sama dengan Gucci, Prada, dan Armani.

Zara, menurut saya, mempunyai barang yang lebih berkualitas dan memang populer di banyak negara. Tapi tetap saja. Di daratan Eropa, ini hanya toko pakaian biasa, tapi di Indonesia, brand asal Spanyol ini naik kasta menjadi simbol kemewahan.

Epilog:

Ini hanya luapan opini tentang perbandingan penerimaan brand tertentu di luar negeri dengan di Indonesia. Saya sendiri sangat paham bahwa semua orang berhak membelanjakan uang yang dimilikinya, entah itu untuk membeli produk lokal atau produk impor.

Buat saya pribadi, ketika berjalan-jalan ke luar negeri, saya akan memperhatikan perlaku penduduk setempat terhadap brand-brand internasional. Bagaimana euforia mereka terhadap suatu produk tertentu, lalu membandingkannya dengan apa yang saya lihat di Indonesia.

Dan jika bertemu dengan brand tertentu di negeri asalnya, saya akan membandingkan penerimaan brand tersebut di tempat itu dengan di Indonesia.

Kenapa selalu membandingkan dengan Indonesia? Karena saya melihat sebagian masarakat Indonesia mendewakan barang impor hanya karena barang tersebut berasal dari luar negeri, bukan menilik dari kualitas atau seninya. Padahal, Indonesia juga punya produk yang bagus dan harganya lebih terjangkau.

Mengamati perilaku manusia, adalah salah satu hal yang saya peroleh dari traveling. Dan ini sangat menarik. Saya jadi tahu apa nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat tertentu, lalu menghubungkan dengan bagaimana keadaan mereka sekarang ini, baik secara ekonomi, sosial dan politik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s