Mendadak Solo di Madrid


img_0064

Palacio Real de Madrid

There is no greater glory than love, nor any greater punishment than jealousy

(Lope de Vega, born in Madrid)

Saya baru saja membantu menyiapkan itinerary untuk teman saya yang akan berkunjung ke Andalusia Spanyol tahun 2017 ini, hingga saya harus kembali mengingat-ingat trip yang sudah saya eksekusi tahun 2010 silam. Tujuh tahun yang lalu! Mengingat Spanyol adalah salah satu negara favorit saya, Insya Allah saya mengingat sebagian besar detailnya karena semuanya sangat berkesan.

Akhirnya saya posting saja di sini. Dulu juga sudah di-publish di Multiply, tapi tulisannya sudah almarhum bersamaan dengan ditutupnya sang platform.

Tahun 2010 adalah salah satu tahun yang sibuk dalam sejarah jalan-jalan saya :D. List-nya adalah seperti berikut:

  • Februari : Spanyol
  • Mei : Skotlandia, Belgia
  • Juli : Jerman, Malaysia
  • Agustus : Inggris
  • Oktober : Belgia (lagi!)
  • Desember : Spanyol (lagi!), Maroko

Jalan-jalan terus, kapan kuliahnya? Haha. Alhamdulillah ada waktu. Lagipula, kuliah saya kan tidak dibayar dengan beasiswa dari uang rakyat Indonesia. Jadi, boleh lah sebagian uang dan waktunya saya pakai untuk bersenang-senang.

O, iya. Ini belum termasuk trip-trip kecil di Belanda, seperti menikmati parade bunga di Keukenhof, Boatweek – mengitari Belanda lewat kanal dan sungai, Afsluitdijk kebanggaan Belanda di Zeeland, dan weekend gateaway lainnya. Alhamdulillah. Saya ingin disibukkan lagi oleh acara jalan-jalan, semoga Allah Mengizinkan 🙂

Baiklah, kembali ke topik awal. Ceritanya, teman sekelas saya yang berasal dari Spanyol selalu mendorong saya untuk menengok Andalusia yang banyak memiliki jejak peninggalan Islam di seantero propinsi tersebut. Mengetahui saya Muslim, dia mungkin melihat bahwa saya punya keterikatan khusus dengan keberadaan Islam di Eropa.

Tentu saja saya tertarik. Menengok Al Hambra adalah impian saya sejak kecil. Saya mengajak salah seorang teman. Saya juga memasukkan Madrid dan Barcelona ke dalam itinerary kami.

Pagi sekali pada hari H, teman saya sudah datang ke studio saya. Kami pun bersama-sama mengayuh sepeda menuju Stasiun Delft. Hari masih sangat gelap.

Dari Stasiun Delft, kami menaiki kereta NS menuju Stasiun Eindhoven Centraal. Dari stasiun kereta, kami naik bus satu kali ke Bandara Eindhoven. Dari sana, kami akan naik RyanAir menuju Barajas International Airport di Madrid. Satu insiden kecil terjadi pada waktu check-in: saya tidak bisa menemukan kartu residence permit saya. Di mana-mana tidak ada! Tidak bersama boarding-pass, tidak di dalam dompet paspor. Tanpa residence permit, saya tidak eligible untuk terbang meninggalkan Belanda apalagi masuk ke Spanyol. Saya panik bukan main!

Oh, ternyata residence permit-nya terselip di lembaran paspor! Alhamdulillah. Pelajaran di masa mendatang, lebih rapi dan jangan main selip-selipin aja, hehe.

img_0028

Kami pun boarding ke kabin RyanAir. Maskapai ini adalah maskapai murah meriah di Eropa. Jadi ya seadanya lah. Waktu itu kami diperbolehkan membawa makanan masing-masing. Penumpang yang lain malah banyak yang lebih lusuh dari kami. Sisi positifnya masyarakat Belanda, seseorang tidak dinilai dari mewah atau tidaknya pakaian yang dikenakannya. Pamer-pamer kekayaan justru adalah hal yang dicemooh oleh masyarakat umum. Saya memang supporter untuk masyarakat yang egaliter.

Akhirnya kami segera mendarat di Madrid. Setelah pesawat landing dengan selamat, para penumpang bertepuk tangan dengan hebohnya seolah mereka baru menyaksikan atraksi sirkus, hihihi. Ini memang umum di low-cost carrier di Eropa, konon.

Dari bandara, kami naik metro ke hostel, check-in, dan langsung jalan-jalan. Rencananya, kami baru akan mengeksplor Madrid setelah kembali dari Andalusia nantinya.

Kami menuju Palacio Real de Madrid untuk berfoto-foto. Istana yang dibangun pada tahun 1734 untuk King Philip V ini merupakan istana kediaman resmi keluarga kerajaan. Akan tetapi mereka lebih senang menggunakan Palacio de la Zarzuela di pinggiran Madrid. Keluarga kerajaan hanya menggunakan istana ini untuk acara kenegaraan saja. Kami tidak masuk, hanya melihat-lihat di luar saja.

img_0113-horz

Ronaldo’s square

Setelah itu kami segera menuju Stadion Santiago Bernabeu, markas besar Real Madrid, klub kebanggaan warga Madrid selain Atletico Madrid. Ketika kami sampai di sana, lapangan stadion sangat ramai oleh lautan manusia. Ternyata ada pertandingan antara Real Madrid dan Villareal malam itu. Saya berharap melihat langsung Raul Gonzales Blanco, Kapten Real Madrid kala itu, salah satu pemain bola favorit saya. Tapi ternyata belum kesampaian, bus yang berisi para pemain pun tidak kelihatan.

Kami sempat bertemu beberapa mahasiswa Indonesia yang kuliah di Madrid yang akan menonton bola malam itu. Kami berfoto bersama, yang setelah saya cek, hanya diambil oleh kamera mereka. Sampai sekarang, saya belum bertemu mereka lagi. Kami bahkan tak sempat berkenalan dengan mereka 🙂 Saya juga bertemu dengan beberapa Madridista yang cukup excited melihat kami di situ. Saya pun disuruh berfoto dengan banner El Real, haha.

img_0144-horz

Stadion Santiago Bernabeu

img_0211-horz

Puerta de Sol

Hari sudah mulai gelap dan kami pun pergi ke Puerta de Sol, salah satu tempat hang-out paling ramai di Madrid. Setelah puas melihat lautan manusia, kami kembali ke hostel untuk beristirahat supaya segar untuk perjalanan ke Granada besok pagi dengan bus. Begitu sampai di hostel, teman saya mendapat telpon dari bosnya. Ternyata ada yang sangat mendesak di kantor sehingga dia harus hadir besok pagi. Dia memutuskan kembali ke Belanda malam itu juga untuk mengejar pesawat yang masih tersedia untuk penerbangan Madrid ke Amsterdam. Saya berempati kepadanya. Melihat Al Hambra juga salah satu keinginannya. Saya memang kecewa, tapi dia pasti jauh lebih kecewa.

Saya pun sendirian. Di kamar dormitory. Dan untuk keseluruhan trip. Al Hambra adalah impian saya bertahun-tahun, dan saya ingin punya trip yang sempurna juga, bersama teman sehingga saya bisa berbagi emosi.

Tak lama kemudian, ada 2 cewek bule datang. Mereka akan menginap di dormitory itu juga. Sangat melegakan. Paling tidak, malam itu saya tidak sendirian di kamar.

Besok pagi saya terbangun dan sarapan di café. Asyik juga hostelnya. Tamu-tamu pada waktu itu cukup ramah sehingga saya pun sarapan satu meja dengan mereka. Saya memesan hostel tersebut melalui Hostelworld. Namanya Musas Residence, dengan kamar dormitory seharga EUR 15 per malam pada waktu itu.

img_0035

Penampakan dormitory Musas Residence

Setelah bersiap-siap, saya segera menuju Estacion Sur de Autobuses. Saya naik bus Alsa, menuju Granada, sendirian. Mendadak jadi solo traveler, saya tak kehilangan semangat.

Saya segera melihat Al Hambra!

Advertisements

3 thoughts on “Mendadak Solo di Madrid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s