Pengalaman Pertama ke Hammam


hammam-kastor

Hammam Kastor, Den Haag, Belanda. Pic from: http://www.hammamkastor.nl

Ada banyak negara yang menjadikan hammam sebagai bagian dari gaya hidup dan tradisinya, terutama di daerah Timur Tengah. Akan tetapi pengalaman hammam pertama saya bukanlah di Turki, ataupun Maroko, ataupun Jordania, ataupun Uni Emirat Arab, dan tidak juga Andalusia Spanyol, tapi di…Belanda!

Tapi sebenarnya, saya pernah mencoba masuk salah satu hammam di suatu sore di area Sultanahmet di Istanbul. Tapi antriannya panjang banget, sehingga saya mengurungkan niat. Lagipula, hammam yang terlalu rame tidak lah begitu mengasyikkan. Saya masih mencoba peruntungan lagi setiap ke Istanbul, tapi keadaan tetap sama. Ada juga teman yang menyarankan untuk memakai hammam di salah satu hotel, eh ternyata tukang scrubbing-nya laki-laki. Aneh. Ada-ada saja, hahaha.

O, iya, kenapa di Belanda?

Berawal dari suatu hari ketika teman saya terlihat lebih bersih, lebih segar dan seperti mendapat energi tambahan. Ternyata ia baru saja kembali dari hammam yang ada di Den Haag.

Waaah, ternyata ada hammam di Den Haag! 😍

Saya mengatakan bahwa saya ingin juga diajak kapan-kapan. Tapi dia menolak dan mengatakan bahwa dia tak ingin pergi dengan orang yang dikenalnya. Heran juga, kami kan sama-sama perempuan. Bagi saya waktu itu, hammam kira-kira mirip dengan luluran. Dan saya juga sering pergi luluran dengan teman perempuan. Girl-friends time, gitu lah.

Secara harfiah, dalam bahasa Arab ‘hammam’ berarti kamar mandi. Apa yang kita lakukan di sana? Ya mandi.

Lalu apa yang membedakannya dengan kamar mandi biasa?

Nah, mandi di hammam adalah mandi plus plus. Jangan sangka yang enggak-enggak, haha. Plus plus maksudnya mandi dan membersihkan diri seperti biasa, dan ditambah dengan scrubbing dengan ramuan tertentu, massage, dan steam room. Kalau di Indonesia, ini luluran lah ya. Kalau luluran kan bisa dibilang kering, kalau di hammam, ini 100% basah. Kita bahkan diguyur dengan air. Saya sebenarnya sering melakukan lulur sendiri di rumah, tapi sepertinya masih perlu bantuan untuk menggosok punggung.

Buat saya pribadi, hammam identik dengan Timur Tengah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa hammam sejatinya adalah produk dari budaya Romawi, makanya ada pemandian yang dikenal dengan Roman Bath. Saya juga tidak tahu siapa yang pertama kali menemukannya. O, iya, buat yang menonton Sinetron Turki ‘Muhteşem Yüzyıl’ aka Abad Kejayaan, sedikit banyak pasti melihat hammam, ketika Hurrem dan Mahidevran adu mulut ketika mandi Nah, seperti itulah kira-kira penampakan hammam.

Kenapa pula budaya Timur Tengah sampai di Belanda?

Peta demografi Belanda menunjukkan bahwa ada jumlah signifikan warga negara atau pun pendatang dengan latar belakang Timur Tengah. Mereka adalah pencari suaka ataupun mereka yang datang untuk belajar dan bekerja. Mereka ini membawa budayanya sendiri, seperti makanan, musik, pakaian, termasuk hammam. Saya juga menyinggung Islam dan Timur Tengah di Belanda di postingan yang ini.

Di Belanda, sudah merupakan pengetahuan umum bahwa kebanyakan sauna adalah mixed-gender dan bahwa nudity is the norm 😳 Saya agak was-was juga sebelumnya, jangan-jangan hammam di Belanda juga mengadopsi prinsip itu. Kata teman saya, tidak demikian halnya di hammam yang dia kunjungi.

Dengan rekomendasi teman saya itu, saya mengunjungi Hammam Kastor Den Haag, tepatnya terletak di area Schilderswijk. Area ini terkenal sebagai ghetto-nya imigran Turki dan Maroko, yang dulu sempat diisukan menerapkan hukum syariah. Saya tidak tahu kebenaran isu tersebut karena menurut saya selalu saja ada pihak yang mendramatisasi sesuatu hal.

Tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa beberapa sudut Schilderswijk memang terlihat seperti Casablanca, Rabat, atau Konya atau Kayseri, haha. Dan mereka lebih sering menggunakan bahasa Arab, Berber atau Turki, daripada bahasa Belanda. Daerah Schilderswijk tetap dipromosikan oleh pemerintah kota, sebagai melting pot-nya beberapa budaya. Turis pun didorong untuk berkunjung dan mencoba hammam di sana, seperti yang dinyatakan di sini.

Balik lagi ke Hammam Kastor. Pertama kali saya mencoba, saya mendatangi website-nya di sini, lalu menelpon untuk mem-booking jadwal kedatangan dan paket yang saya inginkan. Sayang sekali, semuanya harus dilakukan dalam bahasa Belanda. O, iya, tidak seperti hammam lain yang saya tahu yang mengharuskan pengunjung completely naked, di sini diperbolehkan memakai bikini. Dan tidak semua waktu available buat pengunjung wanita. Pengunjung pria akan memakai hammam ini pada waktu terpisah.

Sampai di hammam, saya menyebutkan nama saya dan jenis paket yang sudah saya booking. Ternyata mereka sudah menyiapkan segalanya. Saya pun membayar dengan kartu debit. Untuk paket basic yang seharga sekitar EUR 30an, diberikan handuk, gayung yang berisi masker badan, handuk penggosok badan, kunci loker, dan voucher makan.

Setelah memakai bikini dan menutupinya dengan handuk, saya mandi pendahuluan di bawah shower yang dipasang di luar ruang mandi utama, lalu masuk ke dalam ruang mandi utama. Ruang itu dikelilingi oleh semacam tempat duduk, di beberapa dinding ada wadah air dari tembaga yang menampung air dari kran air panas dan air dingin. Di tengah-tengah ruangan itu ada semacam meja keramik besar di mana kegiatan gosok-menggosok akan dilakukan.

Dan ternyata tak semua orang berbikini!

Kebanyakan malah memakai tank top dan celana pendek. Tapi saya akhirnya tak merasa kikuk karena malah ada yang completely naked, hihi. Pengunjungnya juga beragam. Ada anak kecil sampai nenek-nenek. Saya sempat ngobrol dengan cewek dari Iran, ada bule Belanda cewek juga, nenek-nenek Maroko dan ibu-ibu Turki. Ternyata di Turki, hammam adalah tempat mencari calon mertua atau pun menantu, hehe. Ibu-ibu Turki biasanya langsung menginspeksi calon yang sedang diincarnya di hammam XD

Setelah selesai main-main air, saya pun masuk ke steam room. Setelah 10 menit, saya tak tahan, lalu keluar lagi. Setelah adem di ruang mandi, saya pun masuk lagi. Lalu keluar setelah 10 menit. Pengunjungnya cukup beradab, menurut saya. Di ruang steam room di sebuah gym elite di Jakarta, seorang cewek dengan santai meludah begitu saja di lantai. Ternyata tak hanya dia, seorang ibu-ibu melakukan hal yang sama sesudah itu 😥 Tanpa sadar saya memasang muka geli dan ternyata terlihat oleh para peludah itu, mereka berkilah bahwa ludah adalah air juga. Saya diam saja ketika itu. Kata siapa air sama dengan air ludah. Sejak saat itu, saya tidak pernah masuk lagi ke steam room yang ada di Indonesia. Sampai saat ini.

Balik ke hammam. Keluar dari steam room, seorang ibu-ibu kekar memanggil saya. Ternyata dia yang akan meng-scrubbing saya 😐  Saya pun disuruh melucuti handuk dan bikini saya. Saya bersikeras memakai CD dan akhirnya diperbolehkan. Saya disuruh menelungkup di atas meja keramik besar tadi.

Si ibu kekar mengantongi sebuah kain dengan sabun lalu menumpahkannya di atas punggung saja, lalu menggosok tubuh saya sejadi-jadinya, mulai dari kaki, paha, bahu atas dan lengan. Ini berlangsung selama 15 menit. Saya bisa melihat butiran-butiran coklat bertaburan di kulit saya. Kata si ibu, itu adalah daki yang tersimpan di kulit saya selama bertahun-tahun, hehe.

Setelah itu saya diguyur dengan air, lalu si ibu membantu saya mengoleskan masker lumpur ke seluruh badan saya. Setelah 10 menit, saya membersihkan masker itu lalu mandi sebersih-bersihnya.

Sebagai penutup dan sesi relaksasi, pengunjung boleh menikmati makanan dan minuman di café yang ada di lantai atas hammam. Saya memilih teh mint Maroko dan baklava Turki. Suasana rumah Maroko sangat kental di sini. Sebuah salon rambut juga tersedia. Tidak ada ruang khusus shalat, hanya sebuah pojokan yang diberi sajadah dan rak buku yang dipenuhi djellaba (jubah Maroko) dan tasbih.

Saya tak pernah berani mengambil dokumentasi, berhubung wanita-wanita Maroko cukup sensitif melihat kamera. Tapi tak apa, saya akan selalu mengingat semuanya. Lulur memang bagus, tapi mandi di hammam punya sensasi lain. Lumayan satisfying juga melihat kulit mati dan sampah yang terpendam di kulit saya berhamburan ke luar.

Ternyata alasan teman saya tidak suka mengajak orang yang dikenalnya adalah karena dia tidak nyaman buka-buka baju di hadapan orang yang dikenalnya, kalau sama perfect strangers gak apa-apa, haha. Sesudah saya pun menjadi pengunjung hammam tersebut, kami mengatur jadwal sedemikian rupa supaya tak bertemu di sana 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s