Tentang Pramugari


Beberapa hari yang lalu, media massa Indonesia dan medsos dipenuhi oleh postingan tentang pramugari Garuda Indonesia yang mengendong seorang nenek yang mempunyai kesulitan untuk berjalan. Konon, sang nenek juga terburu-buru karena harus mengejar penerbangan lain. Karena kursi roda yang menjadi service belum datang juga, si pramugari dan seniornya berinisiatif menggendong si nenek. Aksi sang pramugari mendapat respon positif dari masyarakat luas. Mereka diundang makan bersama Bapak Menteri Perhubungan, dan diberi penghargaan. Kalau menurut hemat saya, sang pramugari hanya menjalankan tugasnya, tapi tampaknya tak semua orang juga yang tergerak hatinya melakukan hal yang sama, sehingga akhirnya dia layak mendapat penghargaan.

Alasan saya membuat tulisan tentang pramugari adalah karena pramugari merupakan bagian dari sebuah acara jalan-jalan jika kita menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Pemberi layanan pada kereta api dan bus kadangkala juga disebut pramugari atau pramugara, tapi pramugari yang saya maksud di sini adalah yang bekerja di pesawat terbang. Kenapa pramugari saja, tidak termasuk pramugara? Tidak ada alasan khusus, mungkin jika ada ide saya akan membuat tulisan tentang pramugara 🙂

Pramugari merupakan salah satu bagian terpenting dalam bisnis penerbangan, terbukti setiap review tentang suatu maskapai, tingkat pelayanan yang diberikan oleh pramugari kepada penumpang selalu diikutsertakan. Pantas saja, ada kategori World’s Best Cabin Crew dalam World’s Airlines Award. Garuda Indonesia pun pernah mendapatkannya lebih dari satu kali.

Buat saya sendiri, hal favorit yang saya perhatikan pada pramugari adalah seragamnya karena biasanya seragam pramugari merepresentasikan budaya dari negara pemilik maskapai penerbangan. Jika menunggu boarding di bandara dan sedang tak ingin berkeliaran, saya akan mencari spot di mana para air crew akan sering melintas 😀 Berbagai seragam pramugari dari banyak maskapai di seluruh dunia dari masa ke masa didokumentasikan oleh pemilik situs ini.

Setelah mencoba beberapa maskapai penerbangan selama hidup saya, karakter pramugari di maskapai penerbangan dari Amerika Serikat dan Eropa dengan Asia dan Timur Tengah sangatlah berbeda. Saya belum pernah naik maskapai yang berbasis di Australia, jadi saya kurang tahu bagaimana karakter pelayanan mereka.

Saya pernah naik United Airlines dan Continental Airlines beberapa kali untuk penerbangan domestik. Dari sudut pandang pengguna, tampaknya pramugari dari maskapai Amerika Serikat tidak terlalu mementingkan penampilan luar. Beberapa orang malah ada yang terlihat tidak langsing lagi, terlalu kekar atau tidak terlalu good-looking, berbeda sekali dengan apa yang saya lihat di iklan atau brosur penerbangan. Seragam yang mereka kenakan biasa aja. Atasannya berupa rompi atau blazer, sedangkan bawahannya berupa rok selutut atau celana panjang. Rambutnya ada yang disanggul, dikucir kuda atau dikepang.

Sewaktu menyajikan makanan, mereka bertanya dan biasanya langsung menyajikan makanan. Praktis, cepat dan efisien walaupun kadang tanpa senyum. Saya sendiri tidak bermasalah dengan ketiadaan senyum itu dan tidak menganggap itu sebagai hal yang negatif. Budaya mereka memang bukan yang terlalu mengobral senyum, tak seperti kita orang Asia.

Di Eropa, walaupun saya lebih suka bepergian dengan kereta api dan bus, saya beberapa kali naik pesawat terbang untuk mengunjungi suatu negara. Maskapai yang pernah saya naiki antara lain: EasyJet, RyanAir, Transavia, Pegagus Airlines, TAP Portugal, Turkish Airlines dan Lufthansa. Lebih sering yang low-cost carrier, haha.

Pramugari di maskapai Eropa mempunyai karakter yang mirip dengan pramugari di maskapai Amerika. Mereka sepertinya lebih mengedepankan citra praktis, cepat, tangkas dan efisien. Seorang pramugari di Lufthansa pernah melemparkan sebuah roti ke meja saya, dan ternyata dia memang melakukan hal yang sama kepada orang lain. Dan saya harus memberitahukan pramugari di suatu penerbangan bahwa saya butuh bantuan mereka untuk mengangkat barang ke rak kabin. Dia tidak akan berinisiatif menawarkan bantuan walaupun saya berdiri tepat di depannya. Tapi itulah Eropa. Iya-iya, nggak-nggak. Gaya komunikasi mereka kebanyakan langsung (direct) dan tidak menggunakan kode-kode, gaya komunikasi yang sekarang saya adopsi. I don’t do kode-kode either, hehe.

Seragam yang dipakai pramugari juga biasa aja. Bawahan berupa rok atau celana panjang, dan atasan kemeja ditambah rompi atau blazer. Mirip seragam yang digunakan pramugari maskapai Amerika Serikat. Yang paling saya suka adalah mantel biru yang dikenakan oleh pramugari KLM di luar kabin pesawat. Dengan tubuh tinggi menjulang dan mantel yang berkibar-kibar ketika berjalan, mereka terlihat sangat anggun.

Pramugari di Eropa juga tidak mengumbar senyum, lebih jarang lagi dibandingkan pramugari di maskapai Amerika Serikat. Inilah yang menjadi hal pembeda dengan pramugari dari maskapai Asia Tenggara. Pramugari dari maskapai Asia Tenggara memang terkenal dengan senyum dan keramahan. Mereka selalu melayani dengan muka cerah seolah hidupnya sama sekali tak ada masalah. Saya tak yakin senyum mereka selalu asli. Tapi ini pun patut dihargai karena sangat tidak mudah tersenyum jika emosi sedang negatif. Senyum, adalah nilai plus untuk maskapai Asia Tenggara.

Saya tidak pernah naik maskapai dari Asia Tengah atau Selatan, jadi saya tidak bisa memberi komentar tentang senyuman pramugari dari wilayah itu. Pramugari dari Emirates juga sering tersenyum, tapi tidak semanis senyuman pramugari dari Asia Tenggara. Kata teman saya yang berkebangsaan Belanda, senyuman wanita Asia Tenggara adalah knock-out smile. Entah apa artinya, haha.

Seragam pramugari dari Asia adalah yang paling juara dibandingkan benua lain, menurut saya. Bagus-bagus dan unik-unik! Lihat pramugari Garuda Indonesia, mereka sangat anggun dengan kebayanya, begitu juga pramugari Singapore Airlines dan Malaysia Airlines. Seragam pramugari Emirates juga unik dengan topi yang diberi sedikit untaian selendang. Air Asia dengan warna merah mencrong-nya. Pramugari Air India dengan saree-nya. Namun tak jarang, saya melihat beberapa pramugari terlihat repot sendiri dengan seragamnya itu.

Terus terang, saya tidak suka dengan pakaian pramugari yang terlalu ketat, pendek, atau rok panjang tapi belahan tinggi. Saya tidak pernah paham apa maksudnya berpakaian seperti itu. Harusnya yang dijual itu service berupa kerja yang tangkas dan respon yang cepat, bukan kemolekan muka dan tubuh pramugari.

Saya hanya satu kali naik maskapai yang berbasis di Afrika, yaitu Air Arabia Maroc, untuk perjalanan dari Casablanca ke Amsterdam, tapi tak banyak yang bisa di-review dari perjalanan itu karena saya tertidur 😛

Ketika blogwalking, saya sampai pada situs forumpramugari.com, sebuah forum untuk air crew berkebangsaan Indonesia dan siapapun yang ingin bekerja di bidang tersebut. Dari sana, saya jadi tahu bahwa menjadi pramugari lebih dari sekadar punya tubuh yang tinggi dan wajah yang cakep. Lebih dari itu. Mereka juga dilengkapi dengan berbagai macam keahlian seperti safety, pertolongan pertama, bela diri, dan lain-lain. Jadi, mereka bertugas sebagai dokter, bidan, maupun polisi. Seru sekali, saya juga ingin mendapatkan training seperti itu walaupun saya tak akan menjadi pramugari.

Situs itu juga memuat banyak cerita tentang perjuangan beberapa pramugari hingga berada pada posisinya sekarang ini. Ada yang harus 4 tahun berusaha tanpa henti hingga mendapat kontrak. Ada yang merasa mimpinya ‘too good to be true’ tapi ternyata bisa tercapai karena selalu berdoa dan berusaha. Ada banyak kisah lain yang tak kalah menginspirasi dan saya terharu sekali membacanya. Saya juga mendapat pelajaran bahwa setinggi apapun keinginan kita, yang penting harus berusaha sekuat mungkin tapi tetap percaya pada kekuatan yang Maha Kuasa. Ini termasuk keinginan traveling, untuk melihat bagian dunia lain, yang dulu terlihat sangat jauh untuk dijangkau 🙂 Semoga saya diberi rezeki untuk tetap melanjutkannya.

Semua pramugari pasti mendengar nama Neerja Bhanot, seorang pramugari berkebangsaan India yang dikenal sebagai pahlawan pada pembajakan Panam Flight 73 bulan September 1986 di Karachi, Pakistan. Sayang sekali, walaupun menyelamatkan banyak orang, Neerja sendiri meninggal dunia akibat luka-luka tembakan dari pembajak. Sesudah meninggal, ia diberi penghargaan oleh India, USA dan Pakistan.

Kisah hidup Neerja sendiri juga berliku, mulai dari menikah muda, dilecehkan suami, pulang ke rumah orangtuanya, bangkit dari kesedihan lalu membangun hidupnya kembali dengan menjadi pramugari sembari menjadi model iklan. Hidupnya yang penuh pencapaian itu akhirnya berakhir 2 hari sebelum ulang tahunnya yang ke-23. Masa-masa terakhir Neerja didramatisasi di film ‘Neerja’ yang trailer-nya ditampilkan di awal postingan ini.

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Pramugari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s