Mengintip Qom, Pusat Keagamaan di Iran


q1

Masjid Jamkaran, Qom dilihat dari jalan

In the book of life every page has two sides: we human beings fill the upper side with our plans, hope and wishes, but providence writes on the other side, and what it ordains is seldom our goal

(Nizami Ganjavi – whose father was from Qom)

Dari Abyaneh di Propinsi Isfahan, kami bergegas menuju Propinsi Qom. Kenapa bergegas, karena jadwal hari itu padat sekali. Siang itu juga, kami harus segera sampai di Masjid Jamkaran, lanjut ke Makam Fatimah Maksumah. Menurut rencana, kami akan bermalam di Tehran. Dua dari travel mates saya memang pengikut Syiah, jadi mereka ingin sekali berziarah dan beribadah di kota yang mereka pandang sangat suci ini.  Saya sih ingin melihat-lihat saja untuk menambah pengetahuan. Sebenarnya, Qom tidak hanya tentang Mullah dan pusat Syiah saja. Sebuah kilang minyak dan pusat pengembangan nuklir juga ada di sini.

Pemberhentian pertama adalah Masjid Jamkaran yang terletak di pinggiran kota Qom. Masjid ini dibangun pada tahun 393 AH oleh Hasan bin Muslah Jamkarani, yang perintahnya dipercaya disampaikan lewat mimpi oleh Imam Mahdi. Masjid ini sangat besar dan halamannya luas sekali. Kaum perempuan harus memakai chador yang disediakan oleh petugas administrasi masjid. Di belakang masjid terdapat kotak harapan. Saya tidak tahu nama yang tepat, tapi pengunjung bisa memasukkan 3 buah keinginannya di sebuah kotak, dengan harapan bisa dikabulkan oleh Allah SWT.

Sebelum masuk masjid, saya diberi sebuah kantong untuk meletakkan sepatu. Interior masjid itu sangat indah. Tapi begitu saya mengeluarkan smartphone untuk mengambil foto, seorang ibu-ibu penjaga masjid menepuk lembut bahu saya sambil geleng-geleng kepala. Tidak boleh foto-foto, mungkin begitu maksudnya. Dia lalu memberikan buku berisi doa dan amalan khusus yang seharusnya dilakukan di Masjid Jamkaran ini. It looked okay, tapi karena saya tidak paham tentang amalan tersebut, saya hanya terima bukunya saja 🙂

qom1

Kiri: Minaret Masjid Jamkaran; Kanan : Selasar Masjid

Selesai di Masjid Jamkaran, kami segera menuju Makam Fatimah Maksumah di pusat kota Qom. Perjalanan dengan mininus sangat sebentar, tak lebih dari 30 menit.

Fatimah Maksumah adalah putri dari Musa Al Kazim, Imam ke-7 Syiah. Ia juga saudara perempuan dari Ahmad dan Muhammad, serta Imam ke-8 Syiah, Imam Reza. Ahmad dan Muhammad dimakamkan di Shah Cheragh, Shiraz dan Imam Reza dimakamkan di Mashhad. Ketiga makam tersebut merupakan tiga dari tempat ziarah utama pengikut Syiah dari seluruh dunia. Semasa hidupnya, Fatimah dikenal sebagai wanita yang mulia dan tinggi ilmunya, dan mendapat bimbingan 2 orang Imam, yaitu ayah dan kakak laki-lakinya.

Sekitar Makam Fatimah Maksumah sangat ramai ketika itu. Mullah terlihat di sana sini. Kaum wanitanya memakai chador hitam. Surban mullah juga bermacam-macam warnanya. Mullah yang memakai surban hitam dipercaya sebagai bagian dari Ahlul Bait.

Dengan baju warna mencolok dan berwarna-warni, saya dan teman-teman yang lain sepertinya menjadi pusat perhatian. Beda sendiri di antara pakaian-pakaian yang berwarna gelap. Tapi mereka hanya mesem-mesem, dan sama sekali tidak melirik dengan tatapan yang membuat kami tidak nyaman. Beberapa orang malah mendekati kami sambil mengatakan dalam bahasa Inggris bahwa mereka sangat senang dikunjungi orang asing.

qom3

Parade di sekitar Makam Fatimah Maksumah

Tentu saja untuk memasuki kompleks pemakaman ini, para wanita harus memakai chador. Seingat saya, tidak ada penyediaan chador di dekat gerbang masuk sehingga salah seorang anggota perjalanan kami harus memberikan uang sebagai jaminan untuk sejumlah chador yang entah didapatnya dari mana. Kami sebenarnya cukup beruntung mempunyai orang yang bisa berbahasa Farsi dan mengerti Syiah di kelompok kami.

Kamera DSLR saya tidak boleh masuk walaupun sudah saya preteli dan ditaruh di dalam tas. Saya disuruh keluar dan disuruh menyimpannya di tempat penitipan yang sama sekali tak terlihat di daerah itu. Saya panik! Teman-teman saya sudah duluan masuk sementara saya sendirian di depan pintu gerbang. Alhamdulillah saya segera melihat salah seorang travel mate yang memang bisa berbahasa Farsi. Beliau keluar lalu menitipkan kamera saya di sebuah pos penjaga, yang tampaknya juga menjadi tempat penitipan barang.

Voila! Masuklah saya ke dalam dengan lancar jaya. Sama seperti Shah Cheragh, makam ini dihiasi mozaik kaca yang berkilauan. Indah sekali. Pengunjungnya sangat banyak. O, iya, tidak disediakan juga tour guide bahasa Inggris seperti yang kami dapat di Shah Cheragh, Shiraz. Tapi tak apa, mengunjungi tempat itu saja sudah menambah wawasan saya.

qom2

Kompleks Pemakaman, Pic credit: Pak Idrus

Mengunjungi Qom saja mendapat reaksi yang beragam dari orang-orang sekitar saya. Tentang IS*S lah, tentang syiah lah, ini lah, itu lah. But I trust my gut more. Saya sendiri punya beberapa teman dari Iran sewaktu kuliah di Delft dan saya tidak punya pengalaman buruk dengan mereka. Mereka bahkan membantu banyak untuk kelancaran acara jalan-jalan saya ini.

Setelah berkunjung, melihat-lihat kota, dan berbelanja souvenir di Pasar Qom, kami melanjutkan perjalanan ke Tehran, ibukota Iran, yang menjadi tujuan terakhir dari rangkaian jalan-jalan ke negeri bangsa Arya ini.

Sedikit tips di Qom:

  • Oleh-oleh dari kota Qom selain perhiasan dari batu Firuz, Al Quran, perlengkapan ibadah dan aksesoris berbau agama. Semuanya bisa ditemukan di Pasar Qom. Saya sendiri membeli sebuah cincin bermata Firuz.
  • Jangan membawa banyak barang sewaktu berkeliling di Qom, alasannya supaya kejadian seperti yang saya alami tidak terjadi. Kamera kecil atau smartphone adalah andalan untuk mengambil foto.
  • Sebelum mengunjungi Makam Fatimah Maksumeh, pastikan dulu bahwa chador sudah disediakan di sana. Membawa chador sendiri tentu lebih baik.
  • Saya kurang tahu apakah non-Muslim diijinkan masuk ke kompleks makam. Lebih baik dipastikan dulu. Salah seorang travel mate saya yang Nasrani sih masuk-masuk saja, tapi dia kan dikelilingi banyak Muslim sehingga tidak kentara.
  • Berpikiran terbuka dan menjaga sopan santun. Qom adalah kota yang dianggap suci oleh umat Syiah, tetap hormati walaupun anda bukan pengikut Syiah. Kita juga pasti akan tidak suka jika ada pendatang yang bersikap melecehkan tempat atau orang yang kita hormati.
  • By nature, orang Iran sangat welcome dan ramah bagi pendatang. Beberapa orang terlihat sangat antusias begitu tahu kami Sunni. Tapi tentu ada beberapa topik yang sebaiknya tidak menjadi bahan pembicaraan, seperti perbedaan isi Al Quran Sunni-Syiah, nikah mut’ah, politik, dan pertentangan Sunni-Syiah. Lagipula, apa kenyamanan yang kita dapat dari membicarakan topik yang sensitif? Jalan-jalan kan buat menenangkan pikiran…
Advertisements

4 thoughts on “Mengintip Qom, Pusat Keagamaan di Iran

    • Chador itu pembungkus tubuh. Mungkin bisa diliat di internet.
      Chador pasti dipakai kalau masuk area ibadah.Kalo di luar, ada yang pakai ada yang tidak. Yang pasti, pakaiannya selalu tertutup,baju lengan panjang dan celana panjang.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s