Yazd, Bunga yang Mekar di Tengah Gurun


Yazd is properly in Persia; it is a good and noble city; and has a great amount of trade 

(Marco Polo, visited Yazd in 1272 AD)

Dari Propinsi Fars, pusat Persia kuno, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Yazd, yang terletak di Propinsi Yazd. Perjalanan ini secara teoretis dilakukan dalam waktu kurang lebih 6 jam, yang saya habiskan dengan tidur. Begitu terbangun, yang saya lihat hanya gurun, gurun dan gurun lagi. Sesekali ada rumah penduduk yang didominasi oleh warna tanah. Saya menjadi ingin tahu bagaimana cara mereka menjalani hidupnya sehari-hari, mengingat tempat ini jauh dari pepohonan dan sumber air. Ada pula kelihatan sebuah kubah yang tertanam di tanah. Ternyata itu adalah Yakhchal, tempat penyimpanan makanan, semacam kulkas alami yang bekerja dengan prinsip pendinginan evaporatif. Sebagai seorang engineer, saya akan menulis satu postingan khusus mengenai engineering sites di Yazd nanti, Insya Allah.

dsc_0251

Yakhchal, Kulkas Alami

Kami sampai di Yazd ketika hari sudah cukup petang. Setelah check-in di sebuah hotel yang antik, kami segera menyusuri Yazd sambil mencari santapan makan malam dan oleh-oleh. Sayang sekali, kami hanya akan menghabiskan satu malam dan satu hari di Yazd sehingga jadwal keesokan harinya benar-benar padat.

yad1

Kiri: Hotel, Kanan: Trotoar Lebar Yazd. Bersih banget ya..

Setelah sarapan pagi, kami segera menuju kompleks Masjid Amir Chaqmaq. Masjid ini dibangun pada abad ke-15 oleh Jalaluddin Amir Chaqmaq (Gubernur Yazd pada masa Dinasti Timurid) dan istrinya, Seti Fatimah. Masjid indah ini memiliki caravanserai (tempat istirahat musafir berkaravan), museum air (yang sayangnya ditutup), dan Tekyeh (tempat upacara berduka umat Syiah). Sebuah pasar juga terlihat di sebelah kompleks masjid. Sebenarnya, yang menarik dari masjid ini adalah ketika cahaya matahari terbenam memasuki sela-sela ruang di bagian depannya. Sayang sekali, kami mengunjunginya di pagi hari…

yad2

Kiri: Masjid Amir Chaqmaq, Kanan: Nakhl setinggi 12 meter untuk peringatan dukacita, mirip upacara Tabuik Pariaman,Sumatera Barat

Selanjutnya kami segera menuju Yazd Water Museum. Satu hal yang menarik dari Yazd yang dikelilingi gurun pasir ini adalah sistem saluran dan distribusi air ke seluruh kota yang disebut Qanat, yang konon sudah ada sejak milenia pertama sebelum Masehi. Qanat, yang berarti saluran, juga ada di kota-kota lain, namun lebih sering diasosiasikan dengan Yazd sekarang ini. Insya Allah, saya juga akan menulis satu postingan khusus untuk Qanat ini 🙂

yad3

Kiri: Yazd Water Museum, Kanan: Badgirs (Windcatcher)

Kembali ke museum. Yazd Water Museum ini menjelaskan peralatan yang digunakan oleh bangsa Persia untuk bertahan hidup di kota yang dikelilingi gurun pasir ini. Museum yang dibuka tahun 2000 ini sebelumnya adalah rumah seorang pedagang yang dibangun pada tahun 1925. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di sini, antara lain: qanat, badgirs (penangkap angin), peralatan hidup sehari-hari dan lain-lain. Hati-hati, museum ini penuh dengan tangga-tangga sempit dan terjal, apalagi yang menuju ke qanat yang berada di ruang bawah tanah. Di museum ini juga dijelaskan bagaimana perjuangan keras bangsa Persia kuno mencari air di tengah gurun untuk disebarkan ke penduduk Yazd. Saya jadi lebih menghargai air sesudah mengunjungi museum ini, hehe.

Kuil Api Zoroaster, Yazd Atash Behram adalah tujuan selanjutnya. Mm, Bahasa Farsi dan Turki agak mirip ya ternyata, Atash-Ateş. Tanpa diberi terjemahan Bahasa Inggris-nya pun, saya sudah tahu itu berhubungan dengan api, hehe. Kuil api Zoroaster ini dibangun pada tahun 1934 dan bergaya Achaemenid. Pengunjung non-Zoroaster bisa melihat api dari ruangan depan saja.

dsc_0320

Yazd Atash Behram

Pemeluk agama Zoroaster di kota Yazd memang cukup signifikan dan mereka terkenal dengan nature-nya yang pekerja keras dan cinta damai. Sejak tahun 400 sebelum Masehi, penduduk Yazd kuno sudah mulai memeluk agama Zoroaster. Menurut keterangan mereka, pemeluk Zoroaster tidaklah menyembah api, tetapi tuhan yang disebut Ahura Mazda, yang keberadaannya dimanifestasikan lewat api. Ahura Mazda dipercaya sebagai pencipta alam semesta, yang ajarannya disebarkan oleh nabi Zoroaster, yang dikenal dengan Zarathusthra. Jumlah pemeluk Zoroaster di Persia menurun tajam setelah masuknya Islam pada abad ke-7 Masehi. Selain di Iran, pemeluk Zoroaster juga banyak ditemukan di India.

yad4

Kiri: Api Suci Zoroaster; Kanan: Dasar-dasar Zoroaster

Selesai di kuil api, kami beralih ke Masjid Jami Yazd. Masjid ini mulai dari abad ke-12 oleh Dinasti Buyid dan baru selesai pada abad ke-14. Sampai sekarang, masjid ini masih dipakai dan dijadikan masjid Jami. Seperti masjid di Iran pada umumnya, interior masjid dihiasi oleh motif floral yang didominasi warna biru. Satu hal yang spesial dengan masjid ini adalah minaretnya yang merupakan minaret tertinggi di seluruh Iran.

yad5

Masjid Jami Yazd

Dari masjid Jami, kami berjalan kali menyusuri lorong-lorong pasar yang kemudian menuju ke perkampungan yang penuh oleh rumah-rumah yang dipagari oleh pagar tinggi yang dilapisi oleh tanah dan kadang-kadang diberi kanopi tanah. Berada di area tersebut sangat nyaman dan sejuk. Sekali lagi, saya kagum dengan daya juang orang Yazd yang merancang semua ini.  O, iya, ternyata daerah tersebut merupakan Kota Tua Yazd.

Sesekali saya mengintip ke dalam gerbang yang tertinggal, ternyata di dalamnya adalah rumah khas Persia yang masih belum dikelola. Tipikal rumah Persia lama, penampakan keseluruhannya tidak bisa ditebak dari luar.

yad6

Kiri: Lorong di Kota Tua Yazd; Kanan: Restoran tempat kami makan siang

Di akhir perjalanan, kami bertemu dengan Alexander’s Prison yang konon pernah digunakan oleh Alexander Agung sebagai penjara tahanan perangnya. Sekarang, bangunan tersebut sudah menjadi sekolah.

dsc_0377

Alexander’s Prison

Setelah itu, kami makan siang dengan menu Persia di sebuah restoran yang tidak jauh dari Alexander’s Prison. Abyaneh, desa tradisional Persia menjadi tujuan selanjutnya, yang ditempuh dengan perjalanan panjang dan lagi-lagi saya lalui dengan tidur, haha.

Tips:

  • Perhatikan waktu yang terbaik untuk mengunjungi suatu tempat. Biasanya dari pengalaman pengunjung yang sudah-sudah, akan diketahui waktu yang bagus dan tepat untuk berkunjung.
  • Di dekat Masjid Amir Chaqmaq, di pengkolan lampu merah di dekat kolam menuju Yazd Water Museum (penunjuknya agak rumit, hehe) ada sebuah toko roti tradisional. Paling enak di Yazd selama beberapa generasi, konon. Recommended banget lah…
  • Waktu kami di Yazd memang terlalu singkat dan kami agak terburu-buru. Terus terang, saya lebih suka traveling dengan pace sedang. Cukup waktu untuk belajar, bersantai, memperhatikan penduduk lokal dan mengambil foto.
  • Jika ada waktu, sempatkan naik ke atas rooftop untuk menikmati pemandangan kota tua Yazd. Bayarannya lumayan murah.
  • Yazd terkenal akan kue-kuenya dan kerajinan tekstil. Ini adalah souvenir yang tepat dibeli di Yazd.
  • Sewaktu membeli souvenir, jangan ragu untuk menawar. Jika ada orang Iran bersama anda, let him/her do the bargaining drama 🙂
Advertisements

7 thoughts on “Yazd, Bunga yang Mekar di Tengah Gurun

  1. Pingback: Tips & Trik Jalan-jalan ke Iran – Cerita Jalan-jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s