Menapak Persepolis, Kota Kuno Persia


dsc_0187

One of the reliefs in Apadana, Persepolis

Only by great risks can great results be achieved (Xerxes I)

Capek juga pakai Bahasa Inggris. Kali ini, cerita tentang Irannya dilanjutkan dengan Bahasa Indonesia saja 🙂

Setelah sehari penuh mengitari Shiraz pada hari sebelumnya, keesokan harinya kami bertolak ke Persepolis yang berada pada jarak 70 km dari Shiraz, masih dalam wilayah Propinsi Fars. Kami menempuh perjalanan dengan minibus selama 1 jam lebih sedikit.

dsc_0082

Pabrik di gurun. Pasokan airnya pasti challenging banget.

Dengan tiket masuk sebesar 200000 Rial Iran (sekitar IDR 85000), kami memasuki Persepolis melalui tangga kembar yang terdiri dari 111 anak tangga. Persepolis terdiri dari beberapa bagian yang bisa dilihat pada gambar berikut yang saya culik dari Oriental Institute of University of Chicago, pihak peneliti ilmiah pertama yang menggali Persepolis pada tahun 1930-an.

paai_persepolis_plan_72dpi

Pembagian Area Persepolis

Kata ‘Persepolis’ berasal dari dua kata Bahasa Yunani, yaitu ‘Perse’ yang berarti Persia, dan ‘Polis’ yang berarti kota. Jadi Persepolis berarti Kota Bangsa Persia, dalam Bahasa Yunani. Saya kurang tahu juga mengapa nama yang berbau Yunani (yang notabene pernah menduduki kota tersebut) lebih populer dibandingkan Takht-e-Jamshid (Mahkota Jamshid) yang berasal dari bahasa lokal. Mungkin karena Persepolis lebih gampang di lidah kebanyakan orang, menurut saya.

gab2

Kiri: Gerbang Depan, Kanan: The Gate of Xerxes

Persepolis, yang telah dideklarasikan sebagai UNESCO World Heritage Sites pada tahun 1979 ini sudah mulai ada sejak 515 BC. Cyrus the Great dipercaya memilih lokasinya tapi Darius I lah yang mengembangkannya. Persepolis diselesaikan dalam waktu 150 tahun pada masa pemerintahan Darius I, Xerxes I, dan Artaxerxes I. O, iya, para peneliti menemukan bukti bahwa Persepolis dikerjakan tidak oleh budak, tetapi pekerja profesional yang mendapat gaji dan benefit yang sangat layak pada masa itu.  Ada pekerja wanita juga, yang mendapat gaji yang sama dengan pria dan berhak atas cuti hamil.

gab3

Kiri: Tangga kembar, Kanan: Tribune yang dipakai untuk perayaan 2500 tahun Persia

Persepolis tentunya dibangun dengan teknologi paling mutakhir pada masa itu. Kalau masa sekarang, ada semen untuk melekatnya bahan bangunan dan ada crane untuk mengangkatnya. Berdasarkan cerita yang saya peroleh, ada semacam perekat khusus untuk menyambungkan batu-batu itu. Sebagai crane-nya, mereka menggunakan pengungkit hidraulik.

gab5

Teknologi mereka tak kalah dengan teknologi sekarang 🙂

Dari pengamatan saya, Persepolis lebih terlihat seperti istana tempat tinggal keluarga kerajaan. Nasibnya agak mirip dengan Istana El Baadi di Marrakesh (Maroko)- yang indah bak Al Hambra di Andalusia Spanyol – yang dijarah oleh pihak musuh sehingga kini hanya tinggal puingnya saja. Begitu pula dengan Persepolis.Sewaktu Alexander Agung dari Makedonia menduduki kota kuno ini pada tahun 330 BC, dia membakar dan menghancurkan sebagian besar bangunan yang ada. Wajar saja kalau Persepolis yang kita lihat sekarang hanya berupa puing-puing. Namun sisa-sisa keindahannya masih terlihat dengan jelas. Bisa dibayangkan pada waktu lengkap dan utuh seperti apa kecantikannya. Pada masa Islam, Persepolis menjadi tertinggal dari Shiraz yang perkembangannya jauh lebih pesat pada masa itu.

gab1

Pekerjaan yang sangat detail!

Persepolis juga merupakan tempat dilaksanakannya puncak perayaan 2500 tahun Kekaisaran Persia pada tahun 1971, semasa rezim Shah Muhammad Reza Pahlevi. Perayaan mewah yang sangat kontroversial ini dipercaya sebagai salah satu pemicu jatuhnya rezim Pahlevi pada tahun 1979.

gab4

Kiri: Makam King Artaxerxes II, Kanan: Palace of Xerxes

Dari Persepolis, kami mampir sebentar ke Naqsh-e-Rustam, yang berada sekitar 12 km dari Persepolis. Naqsh-e-Rustam adalah komplek pemakaman raja-raja Dinasti Achaemenid, antara lain Raja Darius I, Xerxes I, Artaxerxes I, Darius II, Artaxerxes III, dan Darius III. Dinasti Sassanid juga memberikan jejaknya pada kompleks ini dengan memahat beberapa ukiran. Sayangnya, pada waktu Alexander Agung menyerbu Persepolis, makam ini juga diserbu dan dijarah. O, iya, di depan kompeks Naqsh-e-Rustam ini berdiri sebuah Kubah Zoroaster, yang menurut orang Iran, mirip sekali dengan Ka’bah. Saya tidak sampai naik ke atas jadi saya juga tidak melihat sendiri.

dsc_0218

Naqsh-e-Rustam dan Kubah Zoroaster di depannya

 Sedikit tips:

  • Selalu cek harga tiket masuk, jika ada perubahan harga. Tiga tahun lalu, harga tiket masuk hanya 5000 Rial Iran. Karena banyaknya pengunjung mancanegara, pemerintah menaikkan harga tiket, dengan persentase gila-gilaan untuk turis asing.
  • Siapkan topi lebar, kacamata hitam, air mineral dan jangan lupa pakai tabir surya. Cuaca bisa menjadi sangat panas.
  • Jika membawa backpack, bawalah yang perlu-perlu saja, seperti kamera dan air minum. Di Persepolis sana, aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah berjalan! Mulai dari parkiran ke gerbang masuk ataupun dari gerbang masuk ke sekitaran puing-puing kuno.
  • Ada beberapa toko souvenir di Persepolis. Walaupun barangnya punya label harga, ternyata bisa ditawar kok. Tapi tetap saja barang-barang Isfahan lebih kece dan murah. Lebih baik nyesel beli daripada nyesel gak beli, hehe. O, iya, toko souvenirnya ada yang menerima mata uang asing, termasuk Euro 🙂
  • Sebaiknya pelajari dulu sejarah Persepolis sebelum berkunjung supaya bisa mengapresiasinya dengan lebih baik.

Di sepanjang jalanan di Iran, sering ditemukan gambar-gambar orang atau lukisan. Yang paling sering adalah Imam Ayatullah Khomeini atau Imam Ali Khamenei yang dipasang di hampir setiap sudut daerah. Tapi ada pula wajah-wajah lain yang dipajang secara beramai-ramai. Ternyata itu adalah gambar para syuhada Iran, yang kebanyakan gugur pada saat perang Iran-Iraq, termasuk mereka yang masih berusia kanak-kanak. Mereka berasal dari daerah tersebut sehingga lukisannya juga dipasang pada daerah tersebut. Saya jadi kagum dengan cara orang Iran menghargai para pahlawannya.

20160309_151946

Gambar pahlawan di jalanan

Setelah makan siang, kami menempuh perjalanan panjang ke Yazd, yang saya habiskan dengan tidur. Dari Yazd, masih ada itinerary menarik lainnya ke Abyaneh – desa tradisional Iran, Qom, dan Tehran.

Jalan-jalan anti-mainstream memang tak pernah terlupakan!

Advertisements

4 thoughts on “Menapak Persepolis, Kota Kuno Persia

  1. Mba Srisusanti untuk ke Persepolis ini enaknya ikut paket tour atau pergi sendiri ya? kalo pergi sendiri apakah transportasinya cukup mudah mengingat jaraknya yg cukup jauh 70 KM dari kota Shiraz. Kemudian apakah Naqsh-e Rustam itu nama lain dari Necropolis? Kalau kita pergi sendiri ke Persepolis apakah ada transportasi langsung dari Persepolis ke Necropolis sejauh 12 KM itu?

    Liked by 1 person

    • Mas Hardi, terima kasih atas kunjungannya.

      Kalo ikut tur, enak juga. Tinggal duduk dan sampai di tujuan. Lebih efisien sih dan juga hemat waktu. Ada banyak tur ke Persepolis dan Naqsh-e Rustam dari Shiraz. Mungkin bisa dicari internet.

      Kalo pergi sendiri, kendalanya ada di transpor, tapi lebih bebas. Saya juga tidak tahu apakah ada bus dari Shiraz langsung ke Persepolis, ada referensi di sini sih:
      https://en.wikivoyage.org/wiki/Shiraz

      Necropolis = Naqsh-e Rustam.

      Saya tidak tahu apa ada transportasi umum ke situ.

      Opsi lain, cari temen atau guide lokal di Couchsurfing, jadi bisa sewa taksi bareng dari Shiraz. Selain jadi lebih hemat, bisa dapat temen baru juga 🙂

      Demikian, semoga membantu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s