FFD Retreat to Bandung: Eat, Play, and Laugh


img-20141221-wa0023

Levitation Style di Kawah Putih Ciwidey, Pic credit: BAH

Bagi saya Bandung bukan hanya nama kota, ia juga merupakan filosofi hidup (Ridwan Kamil)

Beberapa kolega di kantor saya mengajak saya untuk ikut acara jalan-jalan ke Bandung. Setelah berdiskusi alot selama beberapa minggu, akhirnya kami memutuskan untuk rafting di Situ Cileunca, bermalam dan BBQ-an di Situ Patenggang dan berkunjung ke Kawah Putih Ciwidey.

Sebenarnya, buat saya tempat-tempat tersebut bukanlah hal yang baru lagi. Tapi saya belum pernah sekalipun ke sana walaupun saya tinggal selama 4 tahun di Bandung dan tidak terlalu tahu apa saja yang menarik dari daerah itu. Saya pernah ke Ranca Upas yang juga berada di sekitar itu, tapi itu hanya untuk ber-‘interaksi’ (baca: OSPEK) dengan angkatan junior. Buat para kolega saya, tempat-tempat ini juga bukan hal yang asing karena kebanyakan mereka adalah orang Bandung.

Kami mengatur sendiri trip ini. Tapi saya malah termasuk orang yang tidak berkontribusi apa-apa, hanya tinggal bayar, sit and go, haha.

Sabtu, 20 Desember 2014

Kami berangkat pagi sekali dari Jakarta. Setelah bertemu di meeting point  yang kami tentukan sebelumnya di salah satu minimarket ternama di ibukota. Setelah semuanya berkumpul, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung melalui jalan tol Cipularang. Ada 3 konvoi mobil saat itu.

Jalanan di Cipularang relatif lancar dan tidak memberikan hambatan yang berarti. Begitu kami mulai keluar tol dengan tujuan Situ Cileunca, kemacetan terlihat jelas di mana-mana. Di bawah guyuran hujan yang kadang gerimis dan kadang lebat, kami perlahan-lahan bergerak dengan percepatan yang sangat kecil.

Setelah drama kebingungan di jalanan dikarenakan rekayasa lalu lintas yang dilakukan aparat, kami akhirnya sampai juga di Situ Cileunca sudah siang sekali, telat beberapa jam dari waktu yang kami perkirakan. Untuk menganjal perut, kami makan bakso yang ada di sekitar situ (Situ dalam bahasa Sunda berarti danau). Setelah itu, kami segera bersiap-siap untuk rafting 1 jam yang sudah di-booking sebelumnya. Kami dibagi menjadi 2 kelompok boat. Masing-masing peserta diberi PPE berupa life-saving jacket dan helm. Buat saya, ini sangat spesial karena itu adalah rafting pertama saya setelah bertahun-tahun. Selama tinggal di Belanda, saya tidak pernah pergi rafting :).

Jalur rafting-nya benar-benar memompa adrenalin saya. Saya berteriak hampir di setiap boat kami jatuh ke ketinggian yang lebih rendah ataupun tersangkut di pohon. Mungkin teriakan sayalah yang paling keras, haha. Saya perhatikan teman-teman tidaklah seheboh itu.  Seru banget, hingga satu jam menyusuri Sungai Palayangan tak terasa terlewatkan begitu saja.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Rafting di Sungai Palayangan. Pic credit: YY

Setelah rafting, kami kembali ke base point, berganti baju dan makan siang di sebuah restoran Sunda di daerah Pangalengan. Saya lupa nama restorannya. Hidangannya lezat, tempatnya nyaman, dan suasananya menyenangkan.

ffd1

Restoran tempat makan siang, Pangalengan

Selepas makan siang yang terundurkan, kami bertolak ke Situ Patenggang. Kami akan menginap di sebuah vila yang sudah direservasi sebelumnya. Jalanan dari Pangalengan ke Situ Patenggang lumayan menantang ditambah hujan. Jalanannya juga agak gelap dikarenakan kurangnya penerangan sehingga kami beberapa kali berhenti memastikan apakah tujuan kami terlewati apa belum.

ffd3

Vila yang kami tuju ternyata terletak di dalam kompleks Situ Patenggang. Setelah membayar tiket masuk, konvoi mobil kami masuk ke dalam. Vila yang kami booking adalah sebuah rumah sederhana dengan 3 kamar, 1 dapur, dan 2 kamar mandi. Di belakang vila ada sebuah teras yang menghadap langsung ke Situ Patenggang. A small house with a view!

Masing-masing orang mendapat tempat tidur yang empuk beserta selimut. Alat-alat masak, alat makan, makan malam, air minum dan sarapan untuk esok hari juga termasuk dalam paket yang disediakan. Menurut saya, kebersihannya biasa saja. Dan terus terang, vila ini agak spooky, hehe. Tapi tak apalah, harganya sekitar IDR 1 jutaan semalam. Ada harga ada barang, toh

Malam itu kami memutuskan untuk BBQ-an dengan pemanggang yang disediakan oleh penjaga vila. Makanan benar-benar melimpah pada malam itu. Ada ayam panggang, sate padang, sosis goreng dan cemilan yang kami bawa sendiri. Kami tidur dengan perut kenyang. Alhamdulillah.

ffd5

ffd6

Vila yang kami sewa bisa dilihat di:

http://www.situpatenggangciwidey.com/2016/05/villa-di-situ-patenggang.html

Minggu, 21 Desember 2014

Acara pagi dibuka dengan melihat-lihat di sekitar Situ Patenggang yang ternyata mempunyai legenda. Saya juga baru tahu setelah membaca keterangan di sana. Situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda: ‘situ’ yang berarti danau dan ‘pateangan-teangan’ yang berarti saling mencari. Dikisahkan ada dua kekasih, yang bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis yang saling mencari setelah berpisah sekian lama, di tempat yang disebut ‘Batu Cinta’. Dewi Rengganis minta dibuatkan danau dan perahu yang sekarang menjadi pulau yang berbentuk hati (Pulau Sasaka). Konon, siapapun yang singgah dan mengelilingi pulau tersebut akan mendapat cinta abadi.

Kami juga menyempatkan diri melihat-lihat perkebunan teh yang terbentang di sekitar Situ Patenggang. Hidup di sana terlihat simple dan menenangkan. Semua orang terlihat santai dan menikmati apa yang mereka kerjakan. Tempat itu benar-benar cocok untuk melepas penat yang dibawa dari ibukota.

Tujuan terakhir kami hari itu adalah Kawah Putih Ciwidey. Jika tidak menggunakan mobil pribadi, sepertinya ada mobil angkutan untuk mencapai pintu masuk kawah.

Pada zaman dahulu kala, puncak Gunung Patuha, tempat kawah ini berada, dikenal sebagai daerah yang angker karena setiap burung yang melintas di atasnya akan mati. Terlebih baunya sangat menyengat. Seorang ahli geologi Jerman yang bernama Franz Junghuhn memasuki daerah tersebut lalu menelitinya. Dia menegaskan bahwa di Puncak Gunung Patuha terdapat sebuah kawah yang kaya akan unsur belerang sehingga baunya menyengat. Dan belerang bisa membentuk senyawa beracun jika bereaksi dengan unsur tertentu.

Buat saya, kawah ini terasa mistis, dengan air yang berwarna putih kehijauan dan asap putih yang mengepul dari permukaannya. Tempat ini menjadi latar yang sangat bagus untuk berfoto, termasuk kami.

Setelah selesai menghabiskan waktu di kawah putih, kami balik ke Jakarta. Bandung, salah satu rumah ke-2 saya, memang tak pernah membosankan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s