Labbaikallah: Makkah


mk0

Ka’bah

Makkah, inilah kampung halaman Rasulullah saw. Ia lahir dan dibesarkan di sini. Dan hari Ahad, tanggal 13 April 2008 sekitar jam 10.00 malam, aku pun menginjakkan kaki di sana. Labbaika Allahumma Labbaik…

Haru, senang, bahagia, semuanya bercampur aduk tatkala kami dipandu membaca doa memasuki Makkah. Yah, inilah kota yang menjadi tempat yang menjadi kiblat kaum Muslim. Makkah, kota yang selalu dirindukan Rasulullah betapapun betahnya ia di Madinah. Aku pun merindukan kota ini karena di sinilah letak Baitullah, letak Ka’bah, letak kiblatku, dengan segala keutamaannya yang membuatku lebih dekat dengan Rabb-ku.

Selesai makan, alhamdulillah aku langsung mendapatkan kamar di lantai 31 Grand Zam Zam Hotel, yang cuma berjarak sekitar 50 m di depan Babul Malikul Abdulaziz. Kami bahkan tidak usah memakai sepatu jika hanya ingin bolak balik antara masjid dan hotel saja. Kali ini, aku dan Tuty ditempatkan dalam suite yang sama dengan Mbak Fera dan Sari plus Mbak Evelin. O, iya, cerita tentang tingkah polah jamaah lain (terutama dalam Bis 5) dalam kesempatan lain, pokoknya heboh ^_^.

mk1

Grand Zam Zam Suite

Singkat kata, sekitar jam 11 malam, kami dipandu oleh Ust. Solih menuju Masjidil Haram. Bagaimana rasanya ketika melihat menaranya yang menjulang dan penuh wibawa? Wah, tak terungkapkan dengan kata-kata. Dari sela-sela pintu Malikul Abdulaziz, aku bisa melihat satu bangunan berwarna hitam yang dihiasi oleh sekelompok warna kuning emas. Allahumma zid hadzal baita tasyrifan wata’zhiman watakriman wamahabah. Itulah Ka’bah, arah kiblatku. Aku tak perlu mencari arah Barat ato apapun lagi di sini, cukup mengarahkan badanku saja ke sana. Haru deh pokoknya, mending coba aja liat ke sana langsung biar tau rasanya kayak apa…

Masjidil Haram

Ini adalah tempat paling istimewa di Makkah, yang didalamnya terdapat Ka’bah atau Baitullah. Pahala shalat di sini adalah 100.000 kali shalat di masjid biasa (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah, hasan). Masjid ini sangat besar, so kalo ke sana, jangan lupa mengeksplor semua bagian, kelilingi aja ampe nyasar, insya Allah bakal jadi kenangan indah.

Sekarang, Masjidil Haram bertingkat 3, dilengkapi banyak lampu, kipas angin, ratusan jam penunjuk waktu shalat, ratusan (atau ribuan?) tong air zamzam, dan banyak sekali pintu masuk. Namun, saat aku berkunjung, bagian di sekitar Pintu Utama Babussalam sedang direnovasi sehingga akses ke sana, Masjid Hurairah dan Darul Maulud menjadi sangat sulit. Tidak apa-apa, Insya Allah balik lagi…

mk2

Ka’bah

Bisa dikatakan, inilah centre of interest di Masjidil Haram, yang juga merupakan pusat putaran thawaf. Ka’bah berbentuk segi empat yang dilapisi oleh kiswah, semacam sutra tebal yang diganti setiap tahunnya pada waktu jamaah haji sedang wukuf di Arafah. Kiswah ini sangat wangi sehingga beberapa orang kadang mengusapkan tangan yang sudah diusapkan ke kiswah ini ke muka dan badan. Jika terlihat oleh asykar (penjaga), mereka akan menghalau orang-orang yang berbuat seperti itu dengan kata-kata “Haram, haram, khurafat, khurafat”. Memang, banyak sekali perbuatan bid’ah yang terlihat seperti ‘OK-OK aja’ di daerah sekitar Ka’bah, oleh karena itu, kita harus mempersiapkan ilmu untuk ini sebelum berangkat, jangan ampe ikut-ikutan…

Ada beberapa tempat yang penting di Ka’bah dan sekitar Ka’bah, yaitu Hajar Aswad, sebagai tempat memulai thawaf; Rukun Yamani, sisi terdekat dari Hajar Aswad; Hijr Ismail, yang diyakini sebagai bekas kamar Nabi Ismail as; Maqam Ibrahim, tempat berdiri Nabi Ibrahim; Multazam, daerah antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Bukit Shafa-Marwah

Ini merupakan tempat dilakukannya sa’i, berupa gerakan lari-lari antara 2 bukit sebanyak 7 kali (Shafa-Marwah-Shafa: 2 kali). Jangan harap ketemu ama 2 bukit yang menjulang, Shafa-Marwah sekarang lebih seperti lintasan lari yang sudah diberi lantai beton dan keramik, dan ventilasi udara.

Sa’I dimulai di Shafa, dan diakhiri di Marwah. Ini merupakan ‘replika’ dari pencarian Siti Hajar untuk mendapatkan air buat bayinya, Ismail. Ternyata, air yang dicari-cari justru keluar dari hentakan kaki sang bayi, yang kemudian disebut sebagai mata air zamzam. Jujur saja, sa’i cukup menguras tenaga, tapi kalo dibandingkan ama usaha keras Siti Hajar yang sudah kebingungan, kayaknya sa’i kita masih kalah jauh deh 😛

Ibadah umrah akan berakhir di Marwah dengan tahallul (ditandai dengan menggunting rambut). Setelah tahallul semua larangan ihram sudah tidak berlaku lagi. Jadi, selama paket perjalanan ini, ibadah umrahnya sendiri hanya berlangsung sekitar 12 jam, sodara-sodara! 9 jam perjalanan dalam kondisi ihram dari Bir Ali plus 3 jam ritual (thawaf, sa’i, tahallul) di Masjidil Haram.

Arafah

Lahan yang terletak di 25 km dari Makkah ini merupakan tempat melakukan wukuf haji pada tanggal 9 Dzulhijjah. Buat jamaah umrah, tempat ini disinggahi hanya sebatas kunjungan saja. Di Arafah terjapat Jabal Rahmah dan Masjid Namirah.

Jabal Rahmah

Ini terletak di Arafah, ditandai oleh sebuah tugu yang dipercaya sebagai tempat ketemu Adam dan Hawa. Buat para jomblo, tempat ini begitu dinanti-nanti, hahaha. Wah, walaupun tinggi, walaupun terjal dan berbatu-batu besar, dan walaupun ramai, semua itu tidak menyurutkan niat kami untuk naik ke atas. Andai kalian melihat perjuangan Tuty dan aku untuk mencapai puncak bukit itu. Demi, demi, haha. Saking semangatnya, aku baru sadar bahwa sepatuku udah terlepas sewaktu sampai di atas. Ternyata, banyak sekali para jomblo-ers yang menuliskan nama seseorang di tugu Jabal Rahmah. Tuty and I didn’t do that. Menurut kami itu agak vandal.

Selesai di tugu, aku dan Utie turun ke bawah buat nyobain naik unta! Ternyata heboh juga loh sensasinya, aku ama Utie ampe teriak-teriak gitu pas untanya mau duduk dan berdiri, hihihih

Mina dan Muzdalifah

Kita hanya lewat saja di tempat ini since those places can only be accessed by authorized persons at that time. Kita sempat ngeliat terowongan Mina, tempat melontar jumrah yang lagi diperluas saat ini, kemah-kemah jamaah haji (Masya Allah, banyak nian). Hopefully, I will stay there too, someday, Insya Allah…

Jabal Nur

Ini bukit tempat terletaknya Gua Hira, yang berada pada ketinggian 200 m dari kaki bukit, dan perlu 2 jam untuk naik ke atas loh. Kebayang nggak, perjuangan Khadijah mengantarkan makanan buat suaminya yang sedang merenung di sana? Bener-bener istri pilihan deh.

Jabal Tsur

Di sini terdapat Gua Tsur yang merupakan tempat persembunyian Rasulullah saw dan Abu Bakar sewaktu dikejar kafir Quraisy pada waktu hijrah ke Yastrib. Peristiwa ini direkam dalam Al Quran, yang salah satu ayatnya menjadi sangat terkenal, “La tahzan, innallaha ma’ana/ Jangan sedih, Allah bersama kita” (QS. At Taubah : 40).

Ji’ranah

Ini salah satu tempat mengambil miqat bagi orang-orang Makkah.

Ma’la & Masjid Jin

Ma’la merupakan pemakaman keluarga dan sahabat Nabi di Makkah. Khadijah (makam yang diberi pagar hijau), Abu Thalib, Abdul Muthalib, dan putra Rasulullah, Qassim bin Muhammad dikuburkan di sini.

Berdekatan dengan Ma’la, ada Masjid Jin, yang diriwayatkan sebagai tempat para jin bersyahadat.

Pasar Hilton 😀

Yah, ini buat yang mu beli oleh-oleh. Gak jauh kok dari Pintu King Fadh Masjidil Haram. Cari aja di mana ada keramaian, nah itulah dia…

Yup, inilah tempat-tempat yang kita datangi selama di Makkah. Sebentar memang, namun begitu berkesan. Terima kasih ya Allah, atas kesempatan yang berharga ini, atas hidup yang istimewa ini, ampuni jika selama ini aku kadang bersikap kufur nikmat…

Perpisahan dengan Baitullah ditandai dengan thawaf wada’. Tujuh putaran terakhir ini terasa berat, bukan karena perut masih kekenyangan sehabis makan siang, bukan pula karena thawaf ini dilaksanakan pada siang bolong, tapi karena sebenarnya kami tak terlalu ingin melakukannya. Melakukan thawaf wada’ berarti perpisahan dengan Makkah, Masjidil Haram, dan semua rutinitas yang sudah terbiasa kami lakukan selama 3 hari di sana.

Sewaktu thawaf wada’, aku sedih namun masih biasa-biasa saja, tapi ketika shalat sunat thawaf selesai, barulah air mataku berurai. Sediih banget rasanya. Ya Allah, undang kembali aku ke sini. Luruskan niatku, lapangkan rizkiku, sehatkan jasadku, dan beri aku umur. I wanna be back, for hajj and next umrah, Insya Allah…

Again, terima kasih ya Allah, atas semua ini…

After doing thawaf wada’, we continued our journey to Jeddah, before departing to Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s