Labbaikallah: Jakarta – Jeddah


jd01

Masjid Terapung, Jeddah

Kamis, 10 April 2008, aku bangun pagi sekali. Sebelum tidur pada malamnya, aku malah sempat tidak bisa tidur karena cemas tidak bisa bangun tepat waktu keesokan harinya. Hmm, penyakit nervous sebelum menghadapi saat-saat penting ini tidak pernah bisa hilang :).

Ups, back to the topic lagi. Ya gitu, hari kamis itu aku bangun pagi sekali. Tahajud dulu biar segala sesuatunya berjalan lancar. Singkat kata, jam setengah 6 pagi aku sudah siap berangkat. Jam 6.15 pagi, aku berangkat menuju bandara. Ada 2 alasan aku berangkat pagi-pagi ini secara pesawatnya sendiri take off jam 13.20 siang. Pertama, Jembatan Tiga sedang diperbaiki dan banyak orang yang menyarankan agar aku berangkat awal kalo mau ke bandara. Kedua, aku belum ngumpulin koper ke secretariat MQ, jadi biar aku gak merepotkan petugas admin, maka panitia menyarankan agar aku datang lebih awal ke bandara.

Di luar dugaan, perjalanan ke bandara lancar sekali. Jam 7 kurang, aku sudah sampai di bandara. Namun, tidak ada penampakan panitia. Daripada bingung, aku pun menelpon salah seorang panitia dan aku disuruh mencari penjaga koper-koper Bandung yang sudah stand by di sana. Selesai titip koper, aku pun makan pagi dulu di KFC. Thus, ujian pertama pun datang. Sudah jelas-jelas aku yang datang duluan, petugas KFC malah lebih dulu melayani pelanggan yang antrian sesudah aku. Aku akhirnya memilih bersabar aja karena pelanggan tersebut memang sudah nenek-nenek. Innallaha ma’ashshabirin ^_^…

Satu persatu orang yang ber-slayer biru MQ pun mulai berlalu lalang. Setelah bengong-bengong gak jelas (well, I was supposed to use my time for dzikir ;P, kan mau ke tanah suci), satu bis dari rombongan Bandung pun lewat. Alhamdulillah, akhirnya keramaian pun mulai terlihat. Panitia pun mengumpulkan kami di sebuah aula di ujung pintu 2F. Khalayak semakin ramai dan antusiasme mulai terasa. Tak lama kemudian, satu lagi bis dari Bandung pun datang. Wah, subhanallah, melihat keadaan yang demikian ramai, aku pun jadi ingin cepat-cepat berangkat saja…

Tiba-tiba dari salah satu pintu masuk ada kerumunan orang. Aku sedikit bingung kenapa bisa ada wartawan “Silet” berikut para kameramen-nya di kerumunan tersebut. Hmm, pantes aja, yang datang kan Aa Gym. Mereka paling juga nyari ‘berita’ baru. Si Aa hanya mesem-mesem aja, gak ada komentar apapun. Yup, I think that’s the best way to conquer gossipers.

Setelah memberi tausiyah beberapa menit (dan tetap ditungguin ama si wartawan gossip), Aa Gym menutup kumpulan peserta umrah dengan doa penutup majlis dan doa safar. Peserta yang sudah dibagi menjadi 7 kelompok ini pun memasuki ruangan check-in untuk pembagian passport dan pengurusan imigrasi.

Akhirnya aku pun bertemu dengan Pak Vidhya yang menjadi mahram-ku selama di Arab Saudi. Pemilihan beliau sebagai mahramku (kata Mbak Evelin) adalah karena beliau juga orang Minang, hehehe, jadi kan beneran juga kayak “Al ‘Am (Paman)” seperti yang tertera di visa.

jj1

Tak lama kemudian, para penumpang disuruh memasuki pesawat Boeing B747 seri sekian dengan nomor penerbangan GA-980 yang akan menerbangkan kami ke King Abdul Aziz International Airport di Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia (KSA).

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wala quwwata illa billah…

Bismillahi majreeha wa mursaha inna rabbi laghafururrahim…

Aku titipkan keluarga dan semua urusanku di tanah air pada-Mu ya Allah…

Perjalanan sekitar 8 jam biasanya merupakan hal yang sangat membosankan. Tapi tidak untuk kali ini. Ada saja hal yang bikin aku jadi segar lagi. Pertama, ada anak kecil dari travel lain yang selalu bikin ‘keributan’. Si doi nih lasak banget dan demen banget gangguin orang dengan tingkah polahnya yang lucu. Selanjutnya, nih anak ketemu lagi pas nangis di track sa’i di bukit Shafa-Marwah, hihi. Kedua, ibu-ibu yang selalu histeris kalo ketemu Aa Gym, baik dari rombongan MQ maupun travel lain. Di lain kesempatan Si Aa sempat cerita kalo yang marah ama dia tuh ibu-ibu, yang demen foto ama dia juga ibu-ibu, dan belakangan yang sering ngundang dia juga kelompok pengajian ibu-ibu. Nah, bingung kan? Kalo aku, aku ambil yang baik-baiknya aja deh. Emang ada hubungannya umrah ama poligami ya…:P

Oya, rata-rata ada 2 pertanyaan yang sering aku terima sebelum berangkat.

Pertama, kenapa gak haji aja langsung? Well, nunggu haji masih lama bow, 2009 aja masih waiting list, sementara aku udah pengen banget ke sana. Not a lie, I need a huge charger at this moment. Haji? Insya Allah segera menyusul. Please pray for me, semoga dikasih kelapangan rizki dan kesehatan yang masih mantap biar ibadahnya bisa sempurna.

Kedua, kenapa pilih MQ? Well, ini sebenarnya pilihan Tuty, my best friend from high school and umrah travelmate for this time. Saya sih, kesana OK, kesini OK asalkan travelnya professional. Tapi setelah menjalani, MQ cukup bagus kok walaupun (kata orang) relatif mahal. Kita gak hanya dikasi persiapan secara teknis, tapi juga ruhiyah, baik untuk sebelum umrah dan sesudah umrah nantinya. Hotel OKs bangets, apalagi Zam-Zam Grand-nya. Makanan oke. Intinya, walaupun ada kekurangan sana-sini, tapi aku gak kecewa.

Singkat kata, sekitar jam 7 malam waktu Jeddah, alhamdulillah kami mendarat dengan selamat di King Abdulaziz International Airport, bandara tersibuk di dunia pada musim haji setiap tahunnya. Kami pun disambut dengan kata-kata “Capah, capah, capah…” yang diucapkan oleh petugas bandara (belakangan aku tahu bahwa mereka ingin mengucapkan “cepat…cepat, cepat..”). Dan hawa-hawa Arab pun mulai terasa….

jj2

Sekitar jam 11 malam, rombongan MQ yang terbagi di 7 bis pun melesat menuju Madinah Al Munawwarah. Beberapa menit setelah perjalanan, bis yang aku tumpangi sempat menepi sebentar di sebuah masjid karena sopirnya ingin shalat Isya dulu. Rupanya, karena sibuk dia belum sempat shalat Isya. Kami hanya berdecak kagum, jarang-jarang nih di Indo ada yang kayak gini…

Madinah, ditempuh dengan 7 jam perjalanan dengan bis dari Jeddah. Dari Madinah, Insya Allah kami nantinya akan ke Makkah untuk umrah dengan mengambil miqat di Bir Ali.

Madinah, kota Nabi. Dulunya bernama Yastrib. Penduduknya dari dulu terkenal ramah dan terbuka. Di sinilah, Nabi Muhammad saw mendapat ketenangan dalam berdakwah. Di kota ini pula akhirnya beliau menutup usia dan dikebumikan.

Madinah, Al Munawwarah, Al Haram, I’m coming. Finally, I’m coming…

Muhammad, nabiku, labbaik ya Nabiyullah, aku akan datang menemuimu, mengunjungimu,…

jj3

Semalam di Jeddah, setelah umrah

Advertisements

2 thoughts on “Labbaikallah: Jakarta – Jeddah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s