Sedikit Cerita Tentang Maroko


img_1770

Masjid Hassan II, Casablanca

Suara adzan terdengar nyaring sekali. Indah sekali. Ini di Padang? Tak mungkin di Belanda, mana ada adzan Shubuh di Belanda. Dalam setengah sadar, perlahan saya mencoba bangkit ke kamar mandi. Aww, kenapa tungkainya jadi sakit sekali? O, iya. Semua babak belur di tungkai dan tenggorokan ini sisa perjalanan dari Sahara kemarin. Dan ini tentu bukan Padang, bukan Indonesia. Ini Marrakech, dan ini Maroko…. 

Sebenarnya mau bikin note yang lebih rapi dan lebih lengkap, tapi karena belum punya waktu luang untuk itu, Insya Allah dibikinnya kapan-kapan saja. Berhubung banyaknya pertanyaan tentang trip ke Maroko ke inbox saya, saya akan merangkumnya berupa tips dan trik saja, barangkali ada yang pengen tau juga.

img_0544

Medrasa Ben Yousef, Marrakech

Perlu Visa Gak?

Alhamdulillah, semua pemegang paspor Indonesia tak perlu visa untuk masuk Maroko. Semoga pemerintah kita makin bekerja keras membina hubungan baik dengan semua negara sehingga kita gak usah repot mikirin visa lagi.

Dimana mencari Dirham Maroko?

Berdasarkan pengalaman, mencari Dirham Maroko di Belanda sangat susah, padahal banyak banget orang yang sering pulang pergi ke Maroko di sini. Saya sudah mencari ke berbagai penjuru tapi tetap tidak ada. Kalaupun ada, itu harus dipesan paling tidak seminggu sebelumnya dan rate-nya pun lebih tinggi. Jangan khawatir, di bandara dan pelabuhan, Insya Allah ada money changer/cambio, dan tukarkanlah sebanyak yang anda suka. Atau jika anda punya teman orang Maroko, anda bisa minta tolong, kali aja dia punya Dirham lebih.

Setelah diusut, ternyata semua dirham memang tidak boleh meninggalkan Maroko dan harus ditukarkan sebelum meninggalkan negara seribu benteng tersebut karena gak bisa ditukar di luar Maroko. Untuk hitungan kasar, 1 Euro = 10 Dirham Maroko.

img_0474

El Badii Palace, modeled after Al Hambra, Spain

Pelabuhan Tanger Baru dan Lama

Sekarang, semua penumpang dari Tarifa dan Algeciras akan diturunkan di Pelabuhan Tanger Baru. Dari sana, semua penumpang akan diangkut ke port utama dari perut ferry. Penumpang diberi fasilitas bus gratis menuju Pelabuhan Tanger Lama yang terletak di dekat Medina Tanger dan hamparan pantai yang indah :P. Jika ingin ke stasiun kereta, naik petit taxi seharga 10 dirham saja, sekitar 10 menit. Cmon, di mana lagi naik taksi bisa 1 euro? 😛

PetiteTaxi & Grand Taxi

Petite taxi digunakan untuk transportasi di dalam kota, sedangkan grand taxi untuk tujuan yang lebih jauh seperti ke bandara atau antar kota. Di Maroko, ternyata mereka senang berbagi, dalam artian naik taksi pun bisa bareng-bareng orang lain yang gak kita kenal sama sekali. Ya..macam-macam naik angkot gitu lah. Jangan takut dan jangan terlalu naif juga.

Akan lebih baik jika bisa memaksa supir taksi memakai meterannya, tapi biasanya hanya terjadi tawar menawar seperti naik taksi di Padang (haha..)

Warna Petite Taxi berbeda-beda di tiap kota.

  • Tanger: hijau
  • Marrakech: coklat muda
  • Fes: merah
  • Rabat: biru tua
  • Casablanca: merah

Warna grand taxi di tiap kota kayaknya sama, off-white.

img_1677

Mausoleum Mohammad V, Rabat

Belanja di Pasar

Sedikit banyak, saya melihat kemiripan antara Maroko dan Sumatera Barat. Sama-sama menggunakan banyak bumbu di makanan, sama-sama memakai gelar “Sidi” sebagai gelar kehormatan (kami sempat mencurigai bahwa air mineral ‘’Sidi Ali’’ adalah usaha perantau dari Pariaman :P), dan sama-sama mempunyai seni dekorasi interior yang menekankan ukiran.  Jika Minangkabau punya ukiran bernama ‘’Itiak pulang patang’’, ‘’tangguak lamah’’,‘’lumuik hanyuik’’ dan lain-lainnya yang terpahat di istana-istana peninggalan Kerajaan Pagarruyung, maka Maroko punya 1001 macam ukiran yang merujuk kepada Islam dan ayat-ayat Al Quran di berbagai bangunannya.

img_0624

Can you read it?

Dan persamaan itu juga ada di pasar. Sewaktu menginjakkan kaki di pasar Djamaa El Fna di Medina Marrakech, entah kenapa saya merasa sedang berada di Pasar Raya Padang. Ributnya, baunya, agresif-nya para  penjual, sebelas dua belas dengan Pasar Raya Padang Kota Tercinta, yang kujaga dan selalu kubela. Ternyata tak hanya itu, taktik berbelanja di Souk Marrakech yang mirip Pasar Raya Padang dan Souk Fes yang mirip Pasa Ateh Bukittinggi  juga kurang lebih sama.

Bayarlah barang yang anda inginkan dengan harga yang gak melebihi setengah harga yang ditawarkan penjual. Ini bukan hanya omongan saya saja, orang sana pun berpendapat demikian. Jika di Pasar Raya Padang, para pedagang mempertahankan harganya dengan mengatakan, “Diak, ikolah harago awak samo awak/ Dek, ini udah harga antar kita”, maka di sana saya menemukan orang yang mengatakan, “Fatima, I Berber You Berber, this is the special price, only for you”. Bisa aja si Abang penjual, sejak kapan pula nama saya jadi Fatima dan sejak kapan pula jadi orang Berber, haha…:D

Tentu saja akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot, tapi tawar-menawar yang sebenarnya akan terjadi sesaat ketika anda mulai beranjak meninggalkan toko :P. Jika si penjual memanggil anda, terima sajalah. Jika tidak, mungkin juga harga yg ia tawarkan adalah harga mati. Tapi gapapa juga mencari toko lain, gengsi dong balik lagi :D. Persis Pasar Raya Padang!

Dan jangan lupa untuk selalu jaga mata, jaga hati, dan jaga dompet, jika tidak para pedagang tersebut akan ‘’merampok’’ anda habis-habisan :D. Saya sendiri yakin, jika orang Cina, Maroko dan Minang berkongsi membuat usaha dagang, mereka akan meraup untung besar :D.

Bus dan Kereta Api

Selain bus gratis dari Pelabuhan Tanger Baru ke Pelabuhan Tanger Lama, saya tak pernah naik bus, jadi tidak bisa memberikan pendapat. Link berikut bisa dilihat-lihat:

Website: http://www.ctm.ma/Horaires_et_Tarifs_CTM.pdf

Selain CTM, ada lagi perusahaan bus lain yang populer : Supratour.

Untuk kereta api, seperti kereta NS Belanda, ada kelas 1 dan kelas 2. Saya hanya sekali memakai kelas 1 untuk rute 11 jam perjalanan antara Tanger-Marrakech dan dapat tempat tidur. Satu kompartemennya ada 4 tempat tidur. Untuk yang lain saya hanya memakai kelas 2 dan puas-puas saja dengan keadaannya. Penampakannya bervariasi, mulai biasa-biasa saja kayak stoptrein butut-nya NS  sampai macam kereta double-decker NS rute selatan 😀

Website : www.oncf.ma

img_0358

ONCF First Class

Aman Gak Cewek Travel Sendirian?

Yang namanya bencana tentu gak bisa ditolak, tapi kita pun harus berikhtiar menghindarinya. Saya punya teman cewek yang travel sendirian ke Maroko, bahkan sampai ke Sahara, dan sepertinya sekarang sudah kembali ke negaranya dengan selamat. Walaupun begitu, banyak (termasuk orang sana) yang menyarankan untuk tidak travel sendirian di Maroko. Rata-rata orang Maroko sangat ramah, tapi sekali lagi, orang-orang aneh selalu ada di mana-mana. Akan lebih aman jika ditemani temen cowok, apalagi orang lokal, karena mereka lebih tau seluk beluk daerahnya.

Sebenarnya, ada polisi wisata yang berpakaian preman ikut berlalu lalang di kota-kota tujuan turis. Saya pernah bertemu mereka di Fes sewaktu mereka mengecek teman kami. Jika melihat orang lokal bersama orang asli, biasanya polisi tersebut berinisiatif memeriksa si lokal dan memastikan bahwa ia adalah orang yang punya otoritas untuk meng-guide turis.

Jika merasa mendapat perlakuan yang kurang nyaman di jalanan, segera lari ke toko dan minta bantuan kepada pemiliknya. Insya Allah itu lebih aman.

Foto-memoto

Maroko adalah surga bagi siapapun yang suka fotografi. Seni interior yang indah, pemandangan alam yang bervariasi dari salju hingga gurun pasir, sampai aktivitas orangnya. Rata-rata orang lokal tidak suka difoto, apalagi perempuan. Reaksi penolakannya macam-macam, mulai dari menutup muka sampai marah-marah. Jika ingin memoto barang dagangan orang atau atraksi ular kobra di Djamaa El Fna Marrakech, minta ijinlah dan bayarlah ala kadarnya.

img_0875

Kasbah Ait Ben Haddou, on the way to Merzouga

Ana muslimah, min Andunisy

Sudah jelas-jelas memakai kerudung, masih ditanya pula keIslaman saya. Awalnya bete juga, tapi lama-lama paham juga karena beberapa turis memang memakai kerudung dan berpakaian Muslimah lengkap sewaktu berkunjung ke Maroko walaupun mereka bukan Muslimah dan tidak ada aturan yang mewajibkan memakai pakaian muslimah untuk masuk Maroko.

Dan entah apa yang terjadi dengan image Indonesia, hampir di setiap tempat kami selalu ditanya apakah berasal dari Malaysia. Kenapa kata yang pertama muncul adalah ‘’Malaysia’’, bukannya ‘’Indonesia’’? Dan apa gambaran orang Indonesia yang ada dalam benak mereka? Dan yang menanyakan ini tidak hanya orang Maroko, tapi juga orang-orang asing lainnya.

Bahasa

Salah satu cara menghargai orang setempat adalah berusaha menggunakan bahasa yang dipakai di daerah itu. Beberapa teman akan mengatakan saya bohong karena selama 4 tahun di Bandung saya tak pernah bisa dan tak berniat belajar bahasa Sunda sama sekali, haha. Tapi sekarang saya mati-matian belajar bahasa Belanda kok :P.

Di Maroko, bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Perancis, Spanyol, Arab Maroko, Berber, dll. Bahasa Arab Maroko berbeda dengan bahasa Arab Fusha yang sangat gramatikal yang sering kita terima di kursus bahasa Arab di Indo. Dan sebagian orang Maroko adalah orang Berber yang sangat bangga dengan identitasnya, menggunakan satu dua kata dalam bahasa Berber akan membuat mereka merasa senang. Ketimbang menggunakan Salaam, Na’am, dan Syukran, sesekali gunakanlah Azul, Wakha, dan Saha, respectively.

img_1340

Berber Alphabet

Lain-lain?

Jika berniat melakukan perjalanan ke Sahara dari Marrakech melewati Ait Ben Haddou, alangkah baiknya jika menyiapkan penangkal mabuk darat dan kantong muntah karena jalanannya sangat berliku dan jauh lebih ‘’mantap’’ daripada Kelok 44-nya Kabupaten Agam.

Bank-bank yang bisa mengeluarkan Dirham Maroko untuk kartu Maestro ABN Amro antara lain: Societe Generale, Credit du Maroc, dan Attijariwafa Bank. Walaupun ada dalam satu network Visa/Maestro/MasterCard, tidak berarti kartu kita bisa dipakai.

Jika ingin membeli minuman kemasan, pastikan seal-nya masih utuh. Dan usahakan minum melalui sedotan (kata orang Padang: pipet). Pesan sponsor : selalu beli air mineral merk Sidi Ali. Tapi saya gak selalu beli merk tsb dan alhamdulillah baik-baik saja 🙂

Selalu hargai orang tua. Jika berebut taksi dengan orang tua, berikan saja kepada mereka.

Makanan yang patut dicoba: Couscous, beragam tajine, teh mint, dan macam-macam kue manis pengundang kolesterol yang biasanya tersedia di pagi hari.

Nikmati saja semuanya. Jangan mengeluh atau mengomel. Percayalah, semuanya akan jadi kenangan indah, Insya Allah.

Gempor? Iya. Capek? Banget. Tapi semuanya menguap begitu menyaksikan indahnya matahari terbit di ufuk timur Sahara. Alhamdulillah…

img_1233

img_1306

Koreksi? Tambahan? Silahkan….

PS. Rute :

(Delft/NED)-(Eindhoven/NED)-(Sevilla/ESP)-(Algeciras/ESP)-Tanger-Marrakech-Ait Ben Haddou-Ouarzazate-Boumalne Dades-Valle Dades-Todra Valley-Merzouga/Sahara-Fes-Rabat-Casablanca-(Amsterdam/NED)-(Delft/NED)

NS Train, Ryan Air, LineSur, Comarit, ONCF Train, Air Arabia Maroc

Berikut video perjalanan, mulai dari menyeberangi Selat Gibraltar sampai petualangan di beberapa kota. Maapkan kualitasnya yang sangat amatiran 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Sedikit Cerita Tentang Maroko

  1. ka aku mau tanya, august ini aku mau kesana. berhubung kesana free visa, jadi aku tingga bawa paspor aja kan? gak di tanya apa-apa di imigrasinya?

    Like

  2. Ada yang lebih lagi dari kelok 44 diluar sana ternyata. Kalo aku kelok 44 masih lah tahan, cuma heran jalan Kandis Duri yang tak banyak kali keloknya pun, aku masih ngeri2 sedap #perutdikocok #mual mungkin karena kontur tanahnya. Berarti di sana lebih mantap lagi tuh.

    Like

  3. Pingback: Mendadak Solo di Madrid – Cerita Jalan-jalan

  4. Sist… Kebetulan sy berencana ke maroko melalui jalur seville-tangier. Sist naik ap dr seville ke tangier? Ngeteng bus+ferry or naik bus lsg? Brp hari ya di maroko utk itin yg disebutkan dicerita.

    Like

    • Mba Arum, terima kasih atas kunjungannya.

      Untuk Seville ke Tangier, saya naik bus dulu ke Pelabuhan Algeciras dilanjutkan dengan kapal ferry ke Tangier. Dari Pelabuhan Tangier ke pusat kota Tangier dulu disediakan shuttle bus gratis.
      Setahu saya, ada pilihan naik kereta api dari Seville ke Algeciras juga. Silahkan di-google.
      Untuk itin ini, kami menghabiskan waktu sekitar 10 hari.

      Maaf, saya tidak paham dengan kata “ngeteng” 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s